Ciptakan Intelektual Baru untuk Berdayakan Desa
Selasa, 31 Mei 2016 | 7:41 WIB

UU Desa Bagikan "Gula" ke Pedesaan

Anggota Komisi II DPR RI Budiman Sudjatmiko, inisiator UU Desa saat berbicara dalam seminar “Pemberdayaan Desa dalam Konteks Implementasi UU Desa”. SEMARANG, Pembangunan Indonesia selama puluhan tahun terakhir yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi ternyata tidak mampu menyejahterakan rakyat. Masyarakat pedesaan semakin lama semakin tertinggal dibandingkan dengan kota sehingga orang berduyun-duyun datang ke kota dan menambah persoalan sosial di kota.

Anggota Komisi II DPR RI Budiman Sudjatmiko menyatakan, dengan Undang-undang Desa diharapkan bisa membagi apa yang dinikmati orang-orang kota kepada masyarakat yang tinggal di desa.

“Harapannya menciptakan kelas menengah baru di desa. Menciptakan intelektual baru, tanpa meninggalkan desanya karena selama ini intelektual dan kaum menengah yang lahir dari orang desa justru meninggalkan desanya menuju kota karena orientasi pembangunan yang salah,” kata Budiman dalam Seminar “Pemberdayaan Desa dalam Konteks Implementasi UU Desa” di Auditorium Gedung Albertus Unika Soegijapranata, Senin (30/5).

Menurut inisiator sekaligus wakil ketua Pansus UU Desa itu, orang-orang desa saat ini ditantang menggunakan dana desa untuk pemberdayaan masyarakatnya.

Undang-undang Desa lanjut politisi PDI Perjuangan itu, tidak hanya memberikan uang kepada orang di desa tetapi juga ruang dan orang agar mau ke desa. “Selain memberi ‘gula’ kepada desa, Undang-undang Desa juga memberi nafas kepada orang kota,” tambahnya.

Sementara Bahruddin, Pendiri Sekolah Qaryah Thayyibah menyatakan, begitu Undang-undang Desa diluncurkan, banyak kementerian yang belum siap.

“Secara hukum politik arah pembangunan saat ini banyak yang berpaling ke desa dan maritim tentunya. Tetapi masih banyak menteri dan pejabat yang belum sadar, mereka masih fokus pada pembangunan jalan tol, gedung dan lain-lain belum pada irigasi dan embung,” tuturnya.

Sisi pendidikan contohnya masih kata dia, murid di desa tidak pernah diajarkan mengenai potensi dan sejarah desa. “Ada sekitar 150 ibu sekolah dasar di 75 ibu desa. Konsep pemberdayaan tidak bisa lepas dari formulasi sistem,” tambahnya.

Sedangkan Ketua Obor Tani Indonesia Budi Gunawan mempertanyakan, yang patut diberdayakan yakni kompetensi sumber daya manusia desa untuk bisa menggunakan sumber daya alam agar sejahtera.

“Yang paling dekat dengan masyarakat desa ya pertanian. Pertanian ada tiga, pertanian yang menyediakan bahan pokok seperti padi, jagung dan gula. Kemudian pertanian yang menyediakan bahan untuk industri seperti karet, kopi, tembakau dan masih banyak lagi dan ketiga pertanian hortikultura yang seperti buah-buahan dan sayuran,” bebernya.

Menurutnya dana yang digelontorkan ke desa sesuai dengan amanat UU Desa, sebaiknya digunakan untuk riset pertanian agar menghasilkan produk yang berkualitas.

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com

Kategori: