Survei ke Eropa demi Dekorasi
Senin, 11 April 2016 | 8:24 WIB

TOKOH JATENG : Pugiarto Harjanto (Alumni Prodi Arsitektur Unika Soegijapranata)

SM 11_04_2016 Survey ke Eropa demi DemokrasiNAMA Pugi identik dengan dekorasi. Di Semarang, jika seseorang hendak berurusan dengan pasang-memasang dekorasi glamor di gedung yang juga mewah, Pugi-lah yang dicari. Darah seni sang ibu, juga desainer, mengalir pada Pugiarto Harjanto (52).

Setiap hari, Pugiarto melihat sang ibu, Annyanti, bergelut dengan berbagai kelengkapan pernikahan, seperti gaun pengantin, bunga, dan dekorasi pesta. Saat duduk di bangku SMA Kolese Loyola pada 1980, Pugiarto pun bergiat pada ekstrakurikuler dekorasi. Keinginan itu semakin menebal ketika lulus SMA ia memutuskan kuliah di Prodi Arsitektur Unika Soegijapranata.

Namun, karier profesionalnya tak terbentuk begitu saja. Ia harus memulai sedikit demi sedikit hingga mendirikan Galaxy Decoration pada 1988. ”Sudah 28 tahun Galaxy berdiri dan ibu adalah awal mula dari segalanya,” kata Pugiarto ketika ditemui di kediamannya di Jalan Kayumas Selatan B42, Tanah Mas, Semarang Utara, Minggu (10/4).

Pugiarto mengisahkan kehidupan karier sang ibu sangat memengaruhi pencapaian dia sekarang. Semasa hidup, ibunya adalah orang yang aktif dalam organisasi profesinya. Di kalangan para pekerja kreatif dalam bidang dekorasi, nama Annyanti tidaklah asing ketika itu.

Ia juga seorang guru kursus menjahit. ”Sejak kecil saya sudah melihat kiprah ibu,” kenang Pugiarto. Tekad kuat untuk menekuni dunia yang sama itulah yang menjadikan Pugiarto terus maju. Sejak masuk bangku kuliah, ia mulai mencoba mendekorasi acara ulang tahun maupun pesta pernikahan temannya.

Lantaran kedua orang tuanya telah tiada ketika ia masuk bangku kuliah, ia harus bekerja sambil kuliah. Dari sinilah energi kreatifnya mulai muncul. Ia pun pernah beberapa saat menjadi asisten dosen lantaran kemampuannya yang dianggap mumpuni. Pugiarto tak memungkiri jika keahliannya dalam bidang dekorasi bermula dari kebutuhan untuk hidup.

”Saat kuliah saya harus mencari sendiri biaya untuk hidup dan biaya kuliah. Ini sangat berpengaruh terhadap awal mula karier saya,” kata pria kelahiran Semarang ini. Baginya, kebesaran nama Galaxy tak lepas dari perjuangannya melakukan rebranding. Baginya, kerja kreatif harus mengedepankan ciri khas dan inovasi.

Ia tak lelah belajar setiap waktu untuk mengakomodasi keinginan mereka yang datang menggunakan jasanya. ”Jangan sampai pelanggan yang datang justru punya lebih banyak referensi. Karena itu saya harus belajar terus,” kata dia. Ia menyebut dekorasi model garden dan vintage belakangan digemari mereka yang bakal melangsungkan pesta pernikahan.

Ciri Khas

Perpaduan antara klasik, modern, dan glamor juga menjadi andalan dia. Untuk hal ini, ia tak asal comot desain yang sudah pernah ada. Baginya, dekorasi harus kembali pada ciri khas, meski tetap terbuka untuk mewadahi kemauan pelanggan.

Perihal referensi, Pugiarto pun tak segan melakukan survei ke berbagai negara, terutama Eropa, yang acap menjadi kiblat desain perpaduan klasik, modern, dan glamor itu. Meski begitu, keinginan merealisasikan ide dan konsep besar acap terkendala perihal teknis di lapangan, terutama soal gedung, yang di Kota Semarang belum representatif.

”Di kota ini belum ada gedung yang standar dan ini sering menjadi masalah.” Pencapaian terbesar apa yang pernah ia raih? Pada 2008, ia pernah merealisasikan apa yang ia sebut sebagai ”ide gila”. Itu karena ia memfasilitasi keinginan seseorang yang bakal melangsungkan pesta pernikahan dengan jumlah undangan 2.000 orang yang harus melakukan jamuan makan bersama. Masalahnya, di Kota Semarang gedung paling representatif hanya mampu menampung 1.900 orang. ”Maka, ketika itu saya membuat gedung semipermanen di sebuah lapangan.

Itu hanya dipakai sekali saja, lalu dibongkar lagi,” ujarnya. Tak hanya itu, kepuasan tersendiri ia dapati ketika mampu menjadi bagian dari kebahagiaan para pejabat publik yang punya gawe. Pugiarto acap mengonsep berbagai acara orangorang penting di sejumlah daerah. Pugiarto juga yang menjadi salah seorang pendiri Ikatan Pengusaha Jasa dan Perlengkapan Pesta (Ikapesta).

Perkumpulan ini setiap tahun mengadakan pameran yang mengetengahkan berbagai perlengkapan pesta pernikahan, mulai dari dekorasi, busana, tata suara dan lampu, fotografi, makanan, hingga undangan dan suvenir. ”Pada mulanya dibuat oleh 12 orang yang bekerja dalam bidang yang sama. Dari sini kami ingin Jawa Tengah punya potensi yang terus ditingkatkan dan tidak harus keluar daerah untuk mencari kelengkapan pesta,” katanya.

Kini, Galaxy Decoration memiliki sedikitnya 40 karyawan tetap di lapangan dan empat orang staf. Soal pencapaian, ia tak mulukmuluk. ”Saya hanya ingin terus berinovasi. Dan, saya memanfaatkan kesempatan yang saya terima untuk melakukan inovasi itu.” (Dhoni Zustiyantoro-94)

http://berita.suaramerdeka.com

Kategori: