Sumber Energi Alternatif oleh Sansaloni Butar-Butar
Senin, 11 April 2016 | 11:00 WIB

SM 11_04_2016 Sumber Energi Alternatif

ANJLOKNYA harga minyak dunia mendorong pemerintah menurunkan kembali harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 500 per liter. Kebijakan ini berlaku 1 April 2016. Penurunan harga minyak memunculkan optimisme di tengah masyarakat dan berharap kehidupan menjadi lebih menyenangkan. Namun di balik penurunan harga minyak ada bahaya besar yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia dan dunia bisnis.
Mengapa? Setidaknya ada dua alasan: Pertama, pemakaian bahan bakar fosil yang tidak terkendali berpotensi merusak lingkungan dan memicu peningkatan suhu global. Kedua, harga minyak yang berfluktuatif menciptakan risiko bisnis yang luar biasa.

Harga yang relatif murah akan mendorong konsumsi minyak secara berlebihan dan membawa dampak negatif terhadap lingkungan dan makhluk  hidup di dalamnya, terutama manusia. Walaupun isu pemanasan global masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan perubahan iklim, sebagian
besar menyakini adanya keterkaitan antara pemakaian bahan bakar fosil dan pemanasan global. Setiap kali pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas bumi terjadi maka karbon dioksida akan terlepas ke udara. Pemanasan global dapat terjadi karena jumlah karbon
dioksida dan gas rumah kaca (greenhouse) lainnya seperti metana dan Nitro Oksida (N2O) yang terperangkap di atmosfir bumi terlalu banyak. Memang dalam jumlah yang sedikit, gas-gas rumah kaca berperan seperti selimut yang memberi kehangatan kepada setiap makhluk di Bumi sehingga bumi dapat dihuni. Namun, jika gas rumah kaca yang terperangkap dalam atmosfir jumlahnya besar, maka akan menyebabkan suhu bumi meningkat. Fenomena Ini sering disebut dengan efek rumah kaca. Satusatunya cara paling efektif menurunkan emisi karbon secara signifikan adalah dengan berpindah ke sumber energi yang terbarukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga minyak dunia berfluktuasi tajam dan menyulitkan pelaku bisis mengendalikan jalannya perusahaan. Pelaku bisnis perlu kepastian untuk mempermudah perencanaan dan pengeksekusian strategistrategi bisnis ke depan. Apabila pelaku bisnis diam saja dan tidak mengambil langkah antisipatif dalam merespon kondisi tersebut maka ini dapat meningkatkan risiko bisnis dan akhirnya mengancam keberlangsungan usaha. Lebih jauh lagi, kenaikan atau penurunan harga yang tajam membawa goncangan ekonomik yang besar dan berbuntut pada
penundaan investasi bisnis, relokasi sumber daya, serta mengancam pertumbuhan pasar tenaga kerja. Fakta yang membelalakkan mata ini seharusnya mendorong pelaku industri untuk mencari sumber energi alternatif yang harganya lebih mudah diprediksi dan dapat diandalkan.

Tidak Terbatas
Saat ini upaya-upaya untuk mengembangkan sumber energi alternatif telah banyak dilakukan. Setidaktidaknya ada delapan sumber energi (atau kombinasinya) yang berpotensi untuk menggantikan bahan bakar fosil yaitu tenaga matahari, tenaga angin, hidroelektrisitas, bioenergi, energi
geotermal, energi hidrogen, energi samudra, dan energi biomas. Namun, menimbang ketersediaan yang melimpah dan tidak terbatas, sumber
energi yang berasal dari tenaga surya dan angin menjadi alternatif yang paling masuk akal.

Dalam upaya untuk menurunkan penggunaan bahan bakar fosil hingga 20% pada tahun 2030, Tiongkok sedang membangun pembangkit listrik tenaga surya yang dinamakan Delingha di gurun Gobi. Pembangkit listrik ini dibangun di tangah kosong yang mencapai luas 25 kilometer persegi
dan diharapkan dapat menghasilkan 200 megawat listrik.

Di samping matahari, angin merupakan salah satu sumber energi potensial karena paling bersih dan dapat diandalkan untuk menghasilkan listrik. Fakta bahwa energi angin tersedia melimpah di alam dan tidak menghasilkan emisi karbon membuat energi angin menjadi kandidat penting
untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Mengingat besarnya dampak emisi karbon terhadap keberlangsungan umat manusia dan potensi besar sumber energi matahari dan angin untuk menggantikan bahan bakar fosil, momentum penurunan harga minyak dunia seharusnya mendorong negara-negara di dunia untuk beralih ke sumber energi terbarukan.(47) (SM 11/04/2016, hal. 4)

— Sansaloni Butar-Butar, dosen
Universitas Katolik Soegijapranata
Semarang

Kategori: