Sebanyak 368 Dosen dan Karyawan Unika Soegijapranata Akan Tinggal di Lereng Gunung Merbabu Bersama Petani
Selasa, 5 April 2016 | 8:50 WIB

TRBJ 04_04_2016 sebanyak 368 Dosen Unika(TRIBUNJATENG), SEMARANG – Sebanyak 368 Dosen dan Karyawan Unika Soegijapranata akan hidup bersama warga dari serikat paguyuban tani Qaryah Thayyibah di Salatiga untuk bisa menggali inspirasi dan menyelami keadaan masyarakat petani.  Kegiatan refleksi karya tersebut akan dilangsungkan pada 7 hingga 8 April mendatang.

Ketua Panitia Kegiatan, Hotmauli Sidabalok menjelaskan, selama dua hari tersebut setiap dosen dan karyawan akan mengikuti kegiatan masyarakat petani di kaki gunung Merbabu.

"Ada tujuh dusun dan setiap keluarga akan ditempati dua dosen dan karyawan nantinya," beber Hotmauli, Senin (4/4/2016).

Dosen dan karyawan tersebut akan mengikuti kegiatan petani dari awal bangun tidur, bertani, hingga tidur lagi. Menurutnya, kelompok tani Qaryah Thayyibah, merupakan paguyuban tani organik, dengan cara-cara bertani yang memperhatikan lingkungan.

"Kami akan belajar di sana, teman-teman dosen nantinya bisa mengambil makna hidup sederhana dengan tinggal bersama petani, sesuai dengan tema yang diangkat tahun ini yakni kebersahajaan yang memerdekakan," imbuh wanita yang akrab di sapa Uli tersebut.

Ketua The Soegijapranata Institute, Theodorus Sudimin menambahkan, selain pembelajaran bagi dosen dan karyawan, ia berharap melalui keiatan refleksi karya juga bisa menggali problematika yang ada di dusun-dusun tersebut hingga ke depannya bisa menyumbangkan bentuk pengabdian masyarakat di sana.

"Hal itu tercermin dari kegiatan serupa tahun lalu, di beberapa desa di lereng merapi yang akhirnya menjadi desa binaan kami, kita tempatkan mahasiswa KKN kesana, tahun ini sudah ada beberapa problematika yang muncul dari masyarakat tapi tetap kegiatan harus dijalankan agar para dosen bisa menggali lagi potensi apa yang ada," imbuh Theo.

Oleh karena itu di setiap dusun diterjukan perwakilan dosen dari semua fakultas yang ada di Unika, seperti Hukum, Psikologi, Tekologi Informasi, Teknologi Pagan dan lainnya. .

Theo berharap dengan begitu maka akan ada banyak sudut pandang permasalah yag bisa digali untuk kedepannya kembali ke dusun tersebut dan melakukan pengabdian masyarakat. (*)

Tautan : http://jateng.tribunnews.com

Kategori: