Refleksi Hari Bumi : Menghamburkan Pangan Mendurhakai Bumi
Jumat, 22 April 2016 | 14:58 WIB

TRBJ 22_04_2016 Refleksi Hari Bumi - Menghamburkan Pangan Mendurhakai

KETIKA live in bersama sejumlah dosen dan karyawan Unika Soegijapranata di Desa Selorejo, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali saya dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang tidak biasa. Saya berjumpa dengan pasangan suami istri (pasutri) "sepuh" yang sedang menyelamatkan jemuran dari hujan. Penyelamatan jemuran saat hujan hampir tiba tentu adalah pemandangan yang biasa di pedesaan. Yang tidak biasa adalah apa yang dijemur. Di atas lembaran anyaman bambu terhampar nasi sisa hajatan lengkap dengan serpihan tahu, kacang tanah, tempe dan serutan wortel. Berbeda dengan jemuran nasi yang biasa berwarna keputihan, nasi sisa hajatan yang dikeringkan lebih gelap dan dengan bercak-bercak kecoklatan.

Dari perspektif ilmu pangan modern apa yang dilakukan oleh pasutri itu jelas melanggar prinsip mutu dan keamanan pangan khususnya dari sisi estetik dan hygiene. Namun dari perspektif lingkungan sebenarnya pasutri tersebut membantu mencegah terjadinya penghamburan pangan (food wastage). Alih-alih dibuang begitu saja, nasi sisa hajatan yang belum dimakan mereka selamatkan dengan mengubahnya menjadi beberapa produk seperti karak dan rengginang. Inilah contoh praktak reuse (pemanfaatan kembali) yang kasat mata. Reuse adalah usaha untuk memaksimalkan manfaat termasuk dengan memperpanjang daur hidup suatu sumberdaya.

Tentu saja tulisan ini bukan bermaksud untuk mengajak sidang pembaca untuk meniru apa yang dilakukan oleh pasutri "sepuh" tadi. Terlepas bahwa praktak reuse ala pasutri tadi melanggar norma mutu dan keamanan pangan yang berlaku saat ini, sebenamya ada pesan kuat akan apa yang mereka lakukan. Nilai yang tersirat dari praktak setempat (local practice) itu adalah bahwa penghamburan pangan harus dihindari sebisa mungkin tidak ada limbah pangan. Nilai ini setali tiga wang dengan petuah orang tua kepada anak-anak agar pada saat makan tidak menyisakan sebutir nasipun supaya "ayamnya tidak mati".

Dalam tataran profesionalpun ternyata nilai itu juga berlaku. Untara Samsuria, chefasal Indonesia yang telah malang melintang selama lebih dari dua dekade di sejumlah restoran di Bandara Schipol, Negeri Belanda ternyata juga mempraktakkan prinsip sebisa mungkin bebas limbah pangan. Ketika menyiapkan masakan Indonesia di restorannya, Untara selalu mulai dengan membuat opor. Menurutnya dari opor bisa dikembangkan berbagai masakan lain. Dengan hanya menambah cabe dan sedikit bahan lain opor bisa menjelma menjadi sambal goreng. Jika kuah opor masih sisa dapat dipanaskan agar lebih kental dan ditambah irisan daging sapi menjadi "terik". Dari "terik" dapat ditambahkan parutan daging kelapa yang diolah menjadi srundeng dan bisa diperoleh "empal kelem". Dengan begitu kuah opor yang tersisa memiliki umur dan kegunaan yang lebih panjang.

Prinsip untuk tidak membuang makanan sebagai limbah merupakan salah satu nilai keutamaan lingkungan. Pangan yang layak konsumsi yang terpaksa dibuang dikenal dengan istilah limbah pangan (food waste). Menghasilkan limbah pangan adalah penghamburan pangan. Karena sampai detik ini manusia mendapatkan pangannya dari bumi sebagai ibu pertiwi (mother earth), maka menghamburkan apa yang disediakan oleh sang ibu adalah tindakan durhaka.

Sayangnya dalam kehidupan manusia sehari-hari penghamburan pangan seolah tidak terhindarkan. Dalam berbagai jamuan makan dan pesta, misalnya, tuan rumah umumnya berprinsip lebih baik sisa daripada kurang. Atas nama keramahan, tren, dan gengsi makanan yang disajikan dalam berbagai acara cenderung berlebih. Begitu pula makanan yang disediakan di berbagai restoran dan hotel selalu berlimpah. Jika pihak tuan rumah atau penyedia hidangan cenderung menyediakan dalam jumlah berlebih, di ujung yang lain acapkali atas nama sopan satun dan harga diri para tamu tidak menghabiskan secara tuntas makanan yang mereka ambil atau pesan.

Celakanya, kini penghamburan pangan tidak hanya terjadi di pesta, hotel dan retoran. Gejala yang sama juga semakin prevalen di rumah-rumah kita. Hal ini mudah dibuktikan hanya dengan memeriksa jumlah dan komposisi sampah padat yang dihasilkan rumah tangga. Hasil penelitian Gabriel Andari Kristanto tahun 2012 di perumahan kecil, menengah, dan atas di Jakarta menunjukkan sekitar 50 persen di antara sampah yang dihasilkan penduduk Jakarta adalah sampah makanan. Dengan asumsi bahwa setiap orang di Jakarta membuang sampah sekitar satu kilogram/hari, maka penghamburan pangan per hari mencapai 0,5 kilogram/ orang (Kompas, 14/12/13). Bayangkan jika penduduk Jakarta diperkirakan sebanyak 8 juta maka setidaknya ada 4 juta kilogram limbah pangan yang dihasilkan setiap hari. Jika pangan yang tidak tersantap itu berharga Rp. 5 ribu per kilogram saja, maka limbah yang ‘dibuang setiap hari setara dengan Rp. 20 milyar, atau lebih Rp. 7 triliun per tahun.

Penghamburan yang sangat masif itu dapat dimaknai sebagai pelecehan terhadap bumi sebagai pelaku jutaan proses alami sangat kompleks mulai fotosintesis hingga siap panen demi menghasilkan bahan pangan. Paradigma penyediaan pangan "from land to mouth" jelas jelas menunjuk ibu pertiwi sebagai sumber pangan. Untuk mereduksi penghamburan pangan ini diperlukan pemahaman yang utuh tentang bagaimana pangan dihasilkan. Pemahaman itu mensyaratkan peningkatan "melek pangan" (food literacy) di kalangan masyarakat luas. Advokasi dan kampanye yang  serius dan sistematis diperlukan untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi penghamburan ini. (*) (TRBJ 22/04/2016)

__________________________________
Budi Widianarko
Guru Besar di Program Studi Teknologi Pangan
Unika Soegijapranata

Tautan : http://jateng.tribunnews.com

Kategori: