Paradigma Baru Mencegah Kegemukan
Jumat, 15 April 2016 | 16:35 WIB

TRBJ 15_04_2016 Paradigma Baru Mencegah Kegemukan
KESEHATAN manusia merupakan topik yang tak pernah habis digali. Paradigma mengenai penyebab suatu penyakit pola hidup seperti obesitas, diabetes, PJK, atau kanker, biasanya dikaitkan dengan faktor intrinsik seperti kondisi imun tubuh dan genetik penderita atau fakto rekstrinsik seperti lingkungan, pola makan, pola hidup dan lain lain. Tanpa mengabaikan faktor-faktor tersebut, dunia sains telah mulai melirik satu faktor lagi yang kemungkinan dapat menjadi pijakan krusial yang mempengaruhi kesehatan manusia secara umum, yaitu komposisi mikrobiota pencernaan.

Titik awal masuknya kesadaran akan relevansi mikrobiota pencernaan terhadap kesehatan manusia dimulai sejak Metchnikoff (1845 – 1916), penerima Nobel di bidang kedokteran pada tahun 1908, menunjukkan bahwa mikrobia berbahaya bagi kesehatan yang ditemukan di pencernaan manusia dapat digantikan oleh mikrobia yang menguntungkan. Temuan ini terus menerus dikembangkan ke arah perkembangan probiotik, hingga pada era ini mulai terlihat arah bare mengenai peranan mikrobiota pencernaan dalam tubuh manusia yang ternyata lebih mendalam dibanding hanya menyehatkan pencernaan semata.

Kegemukan selama ini hampir selalu diasosiasikan dengan neraca energi positif, yaitu surplus dari net energi yang masuk dan energi yang digunakan. Beberapa makanan yang berkalori tinggi seperti kulit ayam, kentang goreng, dan daging berlemak dianggap perlu dihindari. Bagaimanapun, beberapa individu tetap sulit menurunkan berat badan walau telah mengadopsi perilaku diet rendah kalori. Beberapa individu yang lain tetap kurus walaupun memiliki pola makan yang padat kalori. Berangkat dari paradigma tersebut, sangat menarik ketika suatu studi menunjukkan bahwa komposisi mikrobiota pencernaan pada kelompok individu yang obesitas berbeda dengan kelompok individu yang langsing. Pada indi-vidu obesitas, komposisi mikrobia pencernaannya didominasi oleh bakteria dari filum Firmicutes, sedangkan padaindividu yang langsing, Bacteroidetes lebih mendominasi (Bervoetsdkk., 2013). Pada titik ini, korelasi anta-ra obesitas dan komposisi mikrobiota pencernaan ter-sebut bisa dipandang dari hukum aksi-reaksi: Apakah obesitas adalah aksi yang mempengaruhi atau justru reaksi dari mikrobiota pencernaan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut sangat mengubah paradigma dunia sains kesehatan dalam memandang obesitas. Pertanyaan besar itu terjawab oleh Ridaura dick (2013): Pada penelitiannya, mikrobiota pencernaan dari manusia kembar yang berbeda berat badan ditransplantasikan kepada dua kelompok tikus yang steril dari mikrobia. Setelah 5 hari, kelompok tikus yang menerima mikrobiota pencernaan dari pasangan kembar yang obesitas menunjukkan peningkatan massa tubuh dan massa lemak yang lebih tinggi dibanding kelompok yang menerima transplant mikrobiota pencernaan dari pasangan kembar yang langsing.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar mikrobiota pencernaan dapat ditransplantasikan dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol metabolisme tubuh. Indikasi lain adalah, walaupun masih sangat prematur untuk menarik kesimpulan, peran mikrobiota
pencernaan dalam metabolisme tubuh mungkin jauh lebih menyeluruh daripada yang selama ini kita pahami.

Studi mengenai korelasi komposisi mikrobia pencernaan dan kegemukan memang masih berada pada tahap awal. Tantangan selanjutnya yang belum bisa diakomodasi oleh teknologi saat ini adalah merancang populasi mikrobiota pencernaan dengan komposisi yang tepat untuk tujuan tertentu. Bukankah menggelitik untuk memikirkan bahwa 20 -30 tahun lagi kita akan menemui kapsul-kapsul berisi kumpulan bakteri, baik dengan cara kerja yang sama sekali alamiah? Dengannya, kita bisa mengontrol "pemanenan" energi oleh tubuh kita, sebanyak apapun asupan makanan yang masuk. Lebih jauh lagi, intervensi terhadap mikrobiota pencernaan kemungkinan bisa jadi salah satu alternatif diet preventif atau terapi kuratif untuk menangkal penyakit-penyakit degeneratif yang semakin mengancam kehidupan. (*) (TRBJ 15/04/2016, hal. 2)

K. ARDANARESWARI
Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian
Unika Soegijapranata

Kategori: