Lima Prinsip Kartini Kendheng yang Akan Membuat Kita Termenung
Jumat, 22 April 2016 | 7:41 WIB

Portal Semarang 21_04_2016 Lima Prinsip Kartini Kendheng yang Akan Membuat Kita TermenungSejumlah Kartini Kendheng, julukan bagi perempuan yang berjuang menolak pabrik semen, hadir dalam diskusi bertajuk Perempuan Membaca Amdal. Dua di antara mereka, yakni Gunarti dan Sukinah, naik ke atas panggung di ruang teater Thomas Aquinas Unika Soegijapranata. Mereka memegang dokumen Amdal yang tebalnya hampir satu jengkal.

Kedua Kartini Kendheng itu sangat bersahaja. Cara mereka berbusana, cara mereka berbicara, juga cara mereka merespon pertanyaan sangat bersahaja. Tetapi ide-ide yang mereka kemukakan bukan ide sederhana.

Ketika berdiskusi dengan Prof Budi Widianarko (Rektor Unika) dan Prof Esmi Warasih (Profesor Ilmu Hukum Undip), mereka mengungkapkan cara hidup yang bersahabat dengan alam. Prinsip hidup ini bukan sesuatu yang mereka pelajari dari sekolah, melainkan prinsip yang mereka praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut empat gagasan yang mereka sampaikan.

Pertama, Aku Wajib Njaga Ibu Pertiwi

Menurut Gunarti, dirinya lahir dari seorang perempuan. Tetapi jika ditelusuri dirinya lahir dari bumi. Oleh karena itu, ia merasa dirinya wajib menjaga ibu bumi. Selama ini ibu bumi telah memberikan kehidupan yang layak kepada mereka, hasil pertanian yang berkecukupan, bahkan masih bisa lebih untuk diberikan atau jual kepada orang lain.

Kedua, Banyu Kudu Dijaga

Masih dengan bahasa Jawa, Gunarti menjelaskan bahwa banyu (air) adalah sesuatu yang sangat esensial bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, ia memiliki kewajiban untuk menjaga air agar lestari. Salah satu caranya adalah menjaga gunung air yang selama ini menjadi sumber mata air.

Ketiga, Hasil Tani Cukup, Iso Kanggo Tumbas Sepeda

Sukinah bercerita bahwa dirinya telah hidup sejahtera dengan mengelola sawah. Dengan dua kali panen, ia bisa mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya selama setahun. Bahkan jika hasilnya lebih, ia menjual hasil tani itu untuk berbagai kebutuhan lain. “Hasile iso kanggo tumbas sepeda,” katanya.

Ia meragukan iming-iming kesejahteraan yang dijanjikan pabrik semen. Menurut penghitungannya, manfaat ekonomi yang ditawarkan pabrik tidak seimbang dengan kerusakan yang bisa ditimbulkannya.

Keempat, Amdal Artine Tanggap

Bagi Gunarti, Amdal berarti analisis mengenai dampak lingkungkan. Amdal yang baik disusun dengan kepedulian dan tanggap kepada suasana lingkungan. Warga di sekitar Pegunungan Kendheng, yang hidup turun temurun di sana, selama ini telah tanggap terhadap lingkungan.

Kelima, Anakku Ora Sekolah Mbok Pinter Malah Ngapusi

Ia mengaku memiliki dua keponakan. Namun ia selalu khawatir jika keponakannya disekolahkan justru pinter membohongi orang lain. Untuk membekali anak-anaknnya, Warga Pegunungan Kendheng memiliki semacam sekolah tersendiri.

“Sekolah iku kanggo njaga budhi pekerti, ben ora gawe tuna wong liya. Nek kanggo kebutuhan saben ndino, uwis cukup karo tani,” katanya.

Menurut Rektor Unika Prof Dr Budi Widianarko, pandangan hidup warga Pegunungan Kendheng adalah kebijakan lokal yang menarik. Meskipun dalam perspektif akademis pandangan mereka tidak selalu bisa dibuktikan, namun bisa jadi lebih berpotensi benar dibandingkan dengan pandangan ilmiah.

Menurutnya, yang terjadi dalam diskusi tentang penolakan pabrik semen adalah kontestasi dua sistem pengetahuan yang berbeda.

Di satu sisi warga memahami alam dengan pengetahuan lokalnya. Di sisi lain pemerintah dan pengusaha berusaha memahami dengan perspektif pengetahuan akademik.

“Kalau ada orang yang meminta warga Kendheng untuk membaca (dokumen) Amdal berarti memaksana sebuah sistem pengetahuan formal kepada masyarakat yang berpegang teguh pada sistem pengetahuan lokal,” kata Budi di hadapan para Kartini Kendheng.

Tautan : http://portalsemarang.com

Kategori: