LGBT: Ada dan Tiada
Rabu, 20 April 2016 | 11:23 WIB

IMG_7245Kasus lgbt sudah lama terjadi, bahkan kasus yang baru-baru ini menjerat salah satu artis kondang yang membuat publik tercengang, meski demikian semakin kasus ini ramai dibicarakan semakin naik eksistensi lgbt di tengah-tengah masyarakat.

“Hal semacam ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama, dan gereja menentang dengan tegas, namun kita juga tetap menekankan sikap hormat dan cinta kasih kepada mereka” ujar Romo Fx. Agus Suryana Gunadi, Pr. dalam penjelasannya di seminar catur windu psikologi dengan tema ”LGBT: Bagaimana menyikapinya?”, sabtu (16/4).

Jika dilihat dari pandangan Islam, tentu hal semacam ini adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Iman Fadhilah, S.HI., M. SI., dosen Universitas Wahid Hasyim dalam penjelasannya mengatakan “Dalam tradisi fikih klasik, homoseksual dianggap sebagai orang-orang yang melakukan perbuatan dosa besar, perbuatan keji, perbuatan merusak kepribadian dan merusak agama, sebagaimana sitir dalam Al’ Quran surat ke 7: 80-81” ujarnya.

Sedangkan untuk menyikapi LGBT, Gereja Katolik memberikan anjuran sebagai berikut :  “Kaum homoseksual dipanggil untuk hidup murni menahan hawa nafsu. Dengan kemampuan untuk mampu mengendalikan diri sendiri yang mengajarkan mereka kebebasan dalam diri mereka sendiri, dengan kadang-kadang didukung oleh persahabatan yang tanpa pamrih, oleh doa dan karunia ilahi, mereka bisa dan seharusnya secara bertahap dan pasti mendekati menjadi seorang kristiani yang sempurna” (art.2359)

Disela-sela seminar dibuka beberapa sesi pertanyaan, Dinda, salah satu peserta seminar yang menanyakan ‘Bagaimana mengenai pernikahan sesama jenis di luar negeri, lalu bagaimana di Indonesia yang notabene tidak memperbolehkan hal tersebut?’

“Memang di Indonesia sangat dilarang menikah sesama jenis, yang kita garis bawahi adalah, sex merupakan kebutuhan utama manusia, ibarat bom, bom tersebut tidak akan meledak jika dalam keadaan aman, tetapi jika kita menekan bom terebut, lama kelamaan akan meledak, jadi akankah kita berdamai dengan seksualitas atau akan menekannya, semakin kita menekan semakin meletusnya bom disaat yang tidak tepat” ujar Oriel Callosa, Konselor Psikologi.

Lebih lanjut Psikolog serta dosen Psikologi Unika, Dra. Emmanuela Hadriami, M.Si menambahkan beberapa materi tentang variasi orientasi seksual dan ekspresi gender. IMG_7258

Ekspresi gender merupakan bentuk-bentuk karakteristik yang terkait peran seseorang dengan jenis kelamin tertentu dalam kehidupan sehari-hari, seperti gaya dan penampilan, cara berpakaian, bertingkah laku, cara berbicara atau apa yang dikerjakan mereka. Maka dari itu, gender diklasifikasi menjadi dua yaitu maskulin dan feminin.

Identitas gender adalah keadaan perasaan dan pikiran seseorang tentang dirinya sendiri, terkait jenis kelamin yang dimilikinya dan ekspresi gender yang ditampilkannya.

Seseorang yang identitas gendernya tidak bersesuaian dengan jenis kelaminnya sehingga cenderung menampilkan pola ekspresi gender sesuai cara pandang dirinya disebut sebagai transgender.

Orientasi seksual adalah pola ketertarikan seksual, romantis atau emosional seseorang kepada orang lain. Orientasi seksual dapat ditujukan kepada orang dengan jenis kelamin yang berlawanan (laki-laki kepada perempuan, atau sebaliknya), sehingga disebut heteroseksual atau dapat pula ditujukan kepada orang dengan jenis kelamin yang sama (laki-laki kepada laki-laki lain, atau perempuan kepada perempuan lain), sehingga disebut homoseksual.

“Kesimpulan yang saya ambil bahwa kita harus mencintai ke atas dan sesama, keatas yakni mencintai Tuhan, dan sesama yaitu sesama manusia, tak terkecuali kaum-kaum lgbt” tutup moderator, Christine Wibhowo, S.Psi., M. Psi., (Ajie)

Kategori: ,