Belajar Kebersahajaan dari Petani Organik
Jumat, 15 April 2016 | 12:49 WIB

SM 15_04_2016 Belajar Kebersahajaan dari Petani Organik(Suaramerdeka), SEMARANG, – Live in atau hidup bersama dengan masyarakat terutama di pedesaan selama satu hari satu malam membawa kesan bagi karyawan dan dosen Unika Soegijapranata.

Ketua Panitia Refleksi Karya 2016 Unika Soegijapranata Hotmauli Sidabalok CN MH menyatakan, selain kesan positif dan dapat menyelaraskan dengan tema, live in kali ini juga menemukan berbagai permasalahan di beberapa desa yang ditinggali selama sehari semalam.

“Setiap tahun Unika Soegijapranata mengadakan refleksi karya, pada 2016 ini bertema Kebersahajaan yang Memerdekakan. Refleksi karya ini dikemas dengan model live in di keluarga petani organik di empat desa yang terdiri dari tujuh dusun,” kata wanita yang akrab disapa Uli di Kampus Unika Soegijapranata.

Keempat desa tersebut merupakan binaan Qaryah Thayyibah Salatiga yang membudidayakan pertanian organik di wilayahnya. Kesederhanaan para petani sambung Uli, tercermin dari alasan memilih pertanian organik.

“Mulai dari alasan kepemilikan hak atas tanah dan pengalaman beberapa tahun setelah menggunakan pupuk kimia. Saat menggunakan pupuk kimia, hasil panen petani dari tahun ke tahun semakin menurun,” jelasnya.

Petani di sana masih kata Uli, juga mempunyai kearifan lokal mulai dari pengaturan air dan tanah pertanian. Mereka dalam pengaturan air tidak pernah menampung dalam jumlah banyak dan hanya diambil secukupnya sedangkan sisanya dibiarkan mengalir untuk penduduk lainnya.

“Ini menunjukkan kesederhanaan, berbeda dengan masyarakat kota yang cenderung menampung air sebanyak-banyaknya. Tetapi juga muncul problem saat musim kemarau dimana air tidak terlalu mencukupi untuk lahan pertanian sehingga membutuhkan embung untuk kepentingan bersama,” papar Uli.

Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr Ir Y Budi Widianarko menyatakan, banyak sekali hal yang dapat dipelajari dari kegiatan tersebut.

“Kegiatan seperti ini penting, me-refresh emosi dan menyegarkan kembali mengenai ke-Indonesiaan. Kondisi Indonesia mau tidak mau harus diakui sehari-hari sebagian besar sama seperti di desa yang saya tinggali selama sehari semalam,” bebernya.

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com

Kategori: