Unika Prakarsai Kerja Sama Riset Intra-ASEAN
Jumat, 18 Maret 2016 | 12:48 WIB

SM 16_03_2016 Unika Prakarsai Kerja Sama Riset Intra-ASEANSEMARANG – Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ternyata mengungkap sebuah anomali di dunia pendidikan tinggi kawasan Asia Tenggara. Anomali tersebut adalah miskinnya kerja sama akademik antarperguruan tinggi (PT) di lingkup ASEAN.

PT di negara-negara anggota ASEAN secara alami justru lebih menggarap kerja sama dengan PT di Amerika Utara, Eropa Barat, dan Asia Timur. ”Dengan kata lain, PTASEAN lebih menyukai kemitraan dengan PT dari kawasan yang dianggap lebih maju,” kata Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr Y Budi Widianarko MSc, di kampus Bendan Dhuwur, baru-baru ini.

Menurut Budi, sebenarnya pemberlakuan MEA menuntut pemahaman yang komprehensif tentang kawasan ASEAN. Penelitian dan berbagai kajian ilmiah diperlukan untuk mengungkap kondisi, keberadaan, dan tantangan ASEAN sebagai entitas geografis, sosial-budaya, ekonomi, dan politik. Menanggapi tuntutan itu, Unika Soegijapranata memprakarsai kerja sama penelitian dengan sesama perguruan tinggi di kawasan ASEAN. Prakarsa Unika Soegijapranata diwujudkan dalam bentuk Inisiatif Kerja Sama Riset Intra-ASEAN (IARCI = Intra-ASEAN Research Collaboration Initiative), dengan menggandeng dua PT se-kawasan, yaitu San Carlos University (Cebu, Filipina) dan Assumption University (Bangkok, Thailand).

Peneliti Unika Soegijapranata dari bidang Teknologi Pangan, Manajemen dan Akuntansi berkolaborasi dengan peneliti sebidang dari kedua universitas mitra tersebut. Riset yang dilaksanakan diarahkan pada dua fokus, yaitu studi perbandingan dan studi identifikasi keunggulan ASEAN. Salah satu kegiatan yang diinisiasi adalah riset perbandingan kinerja sektor furnitur di Cebu dan Jawa Tengah.

Selain itu, studi keunggulan ASEAN dalam bidang pangan adalah identifikasi pangan fungsional berbahan baku lokal di Indonesia dan Filipina.

Publikasi Global

Budi Widianarko mengemukakan, sungguh ironi jika PT sekawasan justru tidak bekerja sama untuk menggarap topik yang khas ASEAN. Selama ini PT ASEAN cenderung terjebak mengikuti arus utama topik-topik penelitian global yang malah membuat mereka tidak dapat menonjol dalam kancah publikasi global. Sebaliknya, topik-topik khas ASEAN justru banyak digarap peneliti asing dari Eropa Barat, Amerika Utara, dan Asia Timur.

”Padahal, topik-topik riset khas ASEAN jika digarap dengan pendekatan kolaboratif oleh PT sekawasan, akan memiliki peluang publikasi ilmiah di jurnal-jurnal ilmiah bermutu. Kekuatan penelitian dengan topik ASEAN yang digarap secara kolaboratif oleh PT-PT kawasan ini adalah pada tafsir atau pemaknaan lokal,” katanya dalam rilis kepada Suara Merdeka, kemarin.

Dengan begitu, menurutnya, prakarsa IARCI memberikan dua hal sekaligus, yaitu pemahaman yang lebih dan mendalam tentang ASEAN, serta peluang kolaborasi publikasi ilmiah di aras global.

Guna menunjang riset kolaboratif itu, saat ini Unika Soegijapranata telah mengirim sejumlah visiting scholar (ilmuwan dan dosen tamu) ke sejumlah universitas mitra di Thailand dan Filipina. (D9-37) (SM 16/03/2016 hal. 22)

Kategori: