Susur Jalur Rel Mati Rancaekek Menuju Tanjungsari
Kamis, 31 Maret 2016 | 11:47 WIB

BANDUNG, KOMPAS — PT Kereta Api Indonesia bekerja sama dengan lembaga Sahabat Museum dan Kereta Anak Bangsa mengadakan susur jalur rel mati di Jawa Barat, Selasa (29/3/2016). Susur jalur rel mati itu dimulai dari Stasiun Rancaekek di Bandung sampai Stasiun Tanjungsari di Sumedang yang dibuka pada 13 Februari 1921.

Stasiun Rancaekek Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/3/2016), berada di lintasan utama jalur rel kereta api Bandung-Yogyakarta. Stasiun ini menjadi titik percabangan ke arah Sumedang, dan direncanakan sampai Cirebon, yang pernah dibangun pemerintah kolonial Hindia Belanda hanya sampai Citali, sekitar tiga kilometer setelah Stasiun Tanjungsari di Sumedang dan dibuka operasionalnya pada 13 Februari 1921 hingga 1942. Kompas/Nawa Tunggal Stasiun Rancaekek Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/3/2016), berada di lintasan utama jalur rel kereta api Bandung-Yogyakarta. Stasiun ini menjadi titik percabangan ke arah Sumedang, dan direncanakan sampai Cirebon, yang pernah dibangun pemerintah kolonial Hindia Belanda hanya sampai Citali, sekitar tiga kilometer setelah Stasiun Tanjungsari di Sumedang dan dibuka operasionalnya pada 13 Februari 1921 hingga 1942.

Stasiun Rancaekek berada di lintasan utama jalur kereta api dari Bandung menuju Yogyakarta. Jalur Rancaekek menuju Tanjungsari memegang peranan penting sebagai rintisan jalur kereta api dari Bandung menuju Cirebon untuk berbagai tujuan pada masa kolonial Hindia Belanda.

Salah satunya, bertujuan mempercepat akses ke Pelabuhan Cirebon untuk ekspor komoditas penting seperti kopi dan teh dari Bandung. Sebelumnya, akses ekspor ke pelabuhan di Cilacap, Jawa Tengah, atau Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta.

Di Sumedang, dari Stasiun Tanjungsari, rel sempat dilanjutkan sampai ke Citali sepanjang 3,3 kilometer tidak sampai ke Cirebon karena pada masa itu menjelang krisis ekonomi di Eropa, termasuk Belanda yang berpuncak pada tahun 1929-1930. Jalur tersebut dibangun perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda, Staatspoorwegen (SS), dan hanya bertahan antara 1921 sampai 1942.

Pemerintah pendudukan Jepang memereteli jalur rel tersebut pada tahun 1942 untuk dipindahkan ke jalur Saketi-Bayah di Banten. Tujuan Jepang pada waktu itu untuk eksploitasi batubara di Bayah, pesisir selatan Banten.

Kompas 29_03_2019 Susur jalan Rel Mati Rancaekek Menuju Tanjungsari

Jalur rel kereta api yang direncanakan menghubungkan Bandung ke Cirebon pun kandas hingga sekarang.

Salah satu narasumber untuk kegiatan susur jalur rel mati ini, Kepala Laboratorium Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno, mengatakan, ide reaktivasi jalur kereta api dari Bandung menuju Cirebon sudah lama didengungkan, tetapi tidak pernah ada kejelasan realisasinya.

"Pemerintah pusat ataupun pemerintah daerahnya tidak memiliki ketertarikan untuk menghidupkan kembali dan meneruskan jalur angkutan massal dari Bandung menuju Cirebon ini," kata Djoko.

Akses pelabuhan

Pendiri Kereta Anak Bangsa, Aditya Dwi Laksana, memaparkan, jalur kereta api dari Bandung-Sumedang-Cirebon ditujukan terutama untuk mempercepat akses dari Bandung menuju pelabuhan di Cirebon. Jalur yang terbangun dari Rancaekek sampai Citali masih meninggalkan jejak rel di antaranya jadi pematang sawah.

Bangunan berupa jembatan dan bekas beberapa stasiun masih dapat dijumpai, di antaranya jembatan cincin Cikuda antara ruas Cikeureh dan Cileles. Jembatan cincin Cigondoh ada antara Cileles dan Tanjungsari.

Jembatan Tunggul Hideuang ada di Citali. Saat ini fondasinya masih bisa dilihat. Beberapa viaduk atau terowongan kecil kereta api juga masih dapat dijumpai di Jatinangor dan sebelum memasuki Stasiun Tanjungsari.

Jalur rel mati Rancaekek sampai Citali menjadi potret keseriusan pembangunan sarana angkutan massal pada masa kolonial Hindia Belanda. Kereta api menjadi masa lalu dan masa depan bangsa kita.

Tautan : http://print.kompas.com

Kategori: