Perundungan Anak Merambah Media Sosial
Kamis, 17 Maret 2016 | 9:00 WIB

SM 16_03_2016 Perundungan anak merambah media sosialSEMARANG – Psikolog dari Unika Soegijapranata Cicilia Tanti Utami menyatakan tren perundungan atau bullying terhadap anak usia sekolah bergeser dari perilaku fisik maupun verbal ke ranah media sosial.

Untuk itu, orang tua diminta aktif mengawasi akun media sosial milik anaknya. ’’Ada tren yang semakin meningkat di media sosial. Anak diserang secara terusmenerus,’’ katanya dalam diskusi ’’Bullying di Sekolah’’yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Bimbingan Konseling SMP/MTs Kota Semarang di Sekolah Theresiana, Jalan Mayjend Sutoyo, kemarin.

Jika di sekolah perundungan lebih banyak berisi olok-olok terhadap kondisi fisik maupun tekanan psikis, di media sosial, korban bisa terkena teror secara terus menerus dan tidak mengenal waktu. Perundungan di media sosial juga memungkinkan untuk dilihat oleh para pengguna yang lain. Hal demikian memungkinkan perundungan bisa berjalan tanpa mengenal waktu. Kapan pun pelaku dapat menyerang korbannya hanya melalui akun media sosial yang diakses lewat telepon genggam. ’’Orang tua berperan besar untuk mengawasi, tidak cukup hanya mengandalkan guru di sekolah,’’kata dia di hadapan seratusan guru BK.

Jadi Korban
Namun, ia menggarisbawahi jika perundungan hanya berlaku jika ada pihak yang merasa superior dan ada yang merasa menjadi korban. ’’Sementara jika pihak yang diserang tidak merasa terganggu, tidak bisa disebut bullying,’’ ujar Cicilia.

Riski, siswa SMP21 Semarang yang hadir untuk berbicara pengalamannya dirundung menyatakan, tak bisa berbuat banyak ketika ada sekawanan siswa di sekolahnya yang melakukan aksi tersebut terhadap dirinya.

Ia acap dirundung karena postur tubuhnya yang kecil. Selain itu, makanan yang ia beli kerap diminta oleh kakak kelas. ’’Saya hanya bisa diam. Ada teman lain yang tahu tapi tidak berani membela saya,’’ kata dia. Masalah terselesaikan berkat bantuan dari pihak sekolah.

Ketua Musyawarah Guru Bimbingan Konseling SMP/MTs Kota Semarang, Lilis Tri Saktini, mengatakan diskusi digelar sebagai upaya untuk merespons kondisi terkini di sekolah. Menurutnya, perundungan yang terhadap seorang anak bisa berdampak fatal tidak hanya terhadap psikis anak itu, namun bisa menjadi pemicu tawuran.

’’Sebagai konselor, tentu kami harus tahu langkah yang harus diambil untuk mencegah kenakalan remaja yang terus berkembang ini,’’kata Lilis. (dhz-71) (SM 16-03-2016, hal. 28)

Kategori: ,