Menyusuri Jalur Trem, Angkutan Masal berjaya Tempo Dulu – BISA DIHIDUPKAN LAGI LEWAT LRT
Jumat, 11 Maret 2016 | 12:47 WIB

JWP 06-03-2016 LRT

Butuh Biaya Besar, Bangun LRT Bawah Tanah

Pada tahun 1882 hingga 1940, tern menjadi angkutan masal andalan bagi warga Semarang. Jaringannya terhubung dengan pusat-pusat perekonomian seperti pasar dan pusat aktivitas bisnis dan perdagangan. Seiring berjalannya waktu, tak lama dari tahun 1940-an jalur tram di Kota Semarang ditutup dengan alapn penghematan. Lokomotif-lokomotif penarik trem pun kemudian dipindahkan ke Surabaya. Kini jalur trem di Kota Semarang sudah musnah dan terkubur oleh tebalnya aspal jalan raya. Seperti apa jejak trem di Kota Semarang kini?

LIEM Thian Joe dalam buku Riwajat Semarang 1416-1931 yang diterbitkan pada 1933 menuliskan, Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) membuka jalur trem pada awal 1883. Dua jalur baru dibuka, yakni antara Jurnatan – Bulu (kemudian diperpanjang sampai Banjirkanal Barat) dan Jurnatan – Jomblang. Biaya yang harus dibayarkan penumpang sebesar 8 sen untuk jurusan Jurnatan – Bulu dan 10 sen untuk Jurnatan -Jomblang. Pembangunan jalur rel trem baru ini menyisakan cerita tersendiri bagi warga Semarang saat itu. Liem menuliskan, kondisi antara Karangsari, Bangkong dan Jomblang pada saat itu banyak ditemui sawah dan tegalan. Di sepanjang jalan juga masih banyak dijumpai pohon asam dan pohon johar berukuran besar.

Saat malam tiba, suasana di sepanjang jalan ini menyeramkan. Ketika jalur rel akan dibangun, maka pohon-pohon besar tersebut harus ditebang. Bersamaan dengan proyek ini, di kampung kampung dan kawasan Pecinan tersiar kabar bahwa di sepanjang jalur sepi yang akan dilalui trem tersebut banyak dijumpai hantu sundel bolong.

Hantu ini berwujud perempuan cantik dengan ramput panjang terurai untuk menutupi lubang di punggungnya. Sundel bolong akan menggoda lelaki yang lewat sendirian lalu menghisap nyawa korbannya hingga tewas. Mayatnya lantas dibuang di jalur rel trem dan menjadi setan penunggu daerah tersebut.

Kabar ini membuat penduduk pribumi dan Tionghoa ketakutan melintas sendiri di sepanjang proyek jalur trem. Biasanya mereka akan mengajak 2-3 orang lain untuk menemani saat berjalan melewati jalur tersebut. Liem juga mencatat peristiwa pemogokan karyawan trem Kota Semarang pada 9 Mei 1923 yang membuat bingung pemerintahan Gemeente Semarang. Pemogokan para pekerja pribumi ini merupakan bentuk protes dari penangkapan pimpinan Vereniging van Spooren Tramwegpersoneel (serikat buruh kereta api) Semaoen oleh pemerintah Hindia Belanda.

Akibat pemogokan ini, trem yang menurut jadwal berangkat paling pagi pada pukul 04.53 terpaksa tidak beroperasi. Begitu juga jadwal selanjutnya pukul 05.30. Sebab seluruh masinis, stoker, kondektur dan pegawai pribumi lainnya tidak masuk kerja.

Peneliti sejarah kereta api, Tjahjono Raharjo menjelaskan, dalam perkembangannya, trem di Kota Semarang melayani 4 rute. Selain Jurnatan – Banjirkanal Barat dan Jurnatan – Jomblang, trem juga melayani jalur Jurnatan – Pelabuhan dan Jurnatan – Samarang NIS. Stasiun Samarang NIS yang berada di kawasan Tambaksari merupakan stasiun kereta api pertama di Indonesia. Sebenamya masih ada 1 jalur lagi yang khusus dibangun untuk menyukseskan Koloniale Tentoonstelling pada 1914. Jalur ini menghubungkan rel di kawasan Wilhemina Plein (sekarang Tugu Muda), menyusuri Pieter Sijthofflaan (sekarang Jalan Pandanaran) hingga ke lokasi pekan raya kolonial di kawasan Mugas. "Ini jalur sementara, hanya digunakan selama pelaksanaan Koloniale Tentoonstelling," jelas Tjahjono.

Di Indonesia pada masa lalu, ada 3 kota yang memiliki trem dalam kota. Yakni Batavia (Jakarta), Semarang dan Surabaya. Pertama kali trem digunakan di Batavia pada 1869. Saat itu trem masih ditarik kuda. Trem uap barn digunakan pada 1881.

Keberadaan trem di Batavia yang mampu menjadi angkutan masal, kemudian diadopsi di Semarang. Menurut Tjahjono, pembangunan rel dalam Kota Semarang dimulai sekitar 1882 dan beroperasi mulai 1883. Sementara di Surabaya, trem mulai dioperasilcan pada 1886 oleh Ooster Java Stoomtram Maatschappij (OJS). "Trem saat itu menjadi sistem transportasi publik yang modem di Semarang. Saatitu belum ada bus kota;’ jelas dosen Unika Soegijapranata ini.

Di beberapa tempat, didirikan stasiun dan halte trem untuk naik dan turunnya penumpang. Sayangnya, bekas-bekas stasiun, halte, rel maupun peralatan trem lain, saat ini sudah tidak kelihatan lagi. Rel-rel yang sejajar dengan jalan raya, sekarang sudah terpendam aspal. "Saya yakin kalau aspal-aspal tersebut digali, masih akan ditemukan rel jalur trem," ujar Tjahjono.

Pusat operasional berada di Stasiun Jurnatan yang sekarang sudah berubah menjadi ruko di Jalan Agus Salim. Dan Stasiun Jurnatan ada 4 jurusan menuju Jomblang, Banjirkanal Barat, Samarang NIS dan Pelabuhan.

Jalur Jurnatan-Jomblang melintas di sepanjang Jalan Pandean-Ambengan-Bangkong-Jomblang (sekarang sepanjang Jalan MT Haryono). Pemberhentian akhir Stasiun Jomblang saat ini diperkirakan berada di sekitar Java Supermal.

Jalur kedua adalah Jurnatan-Bulu yang selanjutnya diteruskan hingga Banjirkanal Barat. Sejumlah halte diperkirakan berada di sekitar Pasar Bulu, Pendrikan dan berakhir di daerah Jalan Kokrosono. Jejak-jejak trem di jalur Jumatan – Pelabuhan juga tak kelihatan Satu-satunya yang mungkin masih bisa ditemui adalah sisa-sisa bangunan stasiun Samarang NIS yang berada tak jauh dari Stasiun Semarang Gudang, Tambaksari. Bekas bangunan stasiun tersebut, saat ini digunakan untuk rumah warga meski sudah beberapa kali diuruk lantainya karena rob.

Tjahjono menjelaskan, perkembangan trem di Semarang termasuk yang paling lamban. Ketika zaman semakin maju, trem listrik mulai menggantikan trem uap. Trem Batavia sudah mulai dielektrifikasi sejak 1889, sementara Surabaya pada 1923. Pada 1933 seluruh trem di Batavia sudah memakai lokomotif listrik Sementara trem Semarang hingga akhir hayatnya masihmenggunalcan lokumotif uap.

Sebenamya pada 1912 sudah ada rencana elektrifikasi trem Semarang, tapi tidak pernah terlaksana. Malah pada 1940, layanan trem di Semarang ditutup. "Pemerintah beralasan subsidi tiket terlalu berat sehingga trem semarang dihentikan dalam rangka penghematan.”

Setelahjalur trem Semarang ditutup, sebagian besar lokomotif uap dipindahkan ke Surabaya. Meski OSJ sudah melaksanakan elektrifikasi trem di Surabaya, tapi masih ada sejumlah jalur yang dilayani trem uap. Trem di Batavia dan Surabaya akhirnya ditutup sekitar 1960-an.

Saatini, jejak keberadaan trem di Semarang malah bisa ditemui di Surabaya. Lokomotif B.1239 yang merupakan eks lokomotif trem SJS-54 berdiri di halaman depan Stasiun Pasar Turi Surabaya.

Tjahjono berpendapat, trem bisa dihidupkan kembali di Semarang. Tidak harus berbentuk trem seperti masa lalu, tapi bisa berwujud light rail transit (LRT). LRT bisa menggantikan fungsi angkutan kota karena bisa menampung penumpang lebih banyak.

Menurut Tjahjono, pada prinsipnya sistem trem atau LRT hampir mirip dengan bus rapid transit (BRT) yang saat ini sudah diterapkan di Semarang. Bedanya, LRT memerlukan jalur khusus berupa rel dan mampu mengangkut penumpang lebih banyak. "Seandainya bisa menghidupkan trem atau LRT, tentu sistem transportasi masal lebih efektif," katanya.

Jalur LRT juga tak harus sebidang dan sejajar dengan jalan raya seperti di masa kejayaan trem. Tapi bisa memakai jalur bawah tanah atau jalur layang. Meski demikian, Tjahjono merasa lebih cocok jika memakai jalur bawah tanah. "Kalau pakai jalur di atas akan banyak yang tidak suka karena bisa merusak pemandangan kota," jelasnya.

Diakuinya, setiap moda angkutan akan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Termasuk LRT juga memiliki kekurangan. Yakni untuk membangun jalur bawah tanah, tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. Selain itu, LRT kurang fleksibel karena memerlukan jalur khusus berupa rel. Jika ada gangguan di rel, maka operasional LRT akan berhenti. (ton/Ida)

Kategori: