Membuka Ekspresi Wanita Melalui Samin vs Semen
Selasa, 22 Maret 2016 | 15:39 WIB

IMG_5588Menanggapi isu kepedulian dengan alam, film dokumenter “Samin vs Semen” karya  Dandhy Laksono dan Suparta telah ditayangkan di ruang teater, gedung Thomas Aquinas lantai 3, Unika Soegijapranata (17/3). Film ini  Disaksikan oleh banyak aktivis-aktivis pemberdayaan wanita, mahasiswa, dosen dan media.

Film pendek berdurasi 39 menit 26 detik yang berlatar pedesaan hijau di kota Rembang mengisahkan perjuangan warga Sedulur Sikep (Samin) yang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan di pegunungan karst Kendeng melawan PT Semen Indonesia.

“Acara ‘Nonton Bareng’ ini terselenggara dengan tujuan sebagai wadah diskusi bersama mengenai perjuangan mempertahankan dan merawat bumi tercinta dari keegoisan manusia dan sebagai apresiasi hari wanita internasional, sehingga melalui pemutaran film dan diskusi ini diharapkan dapat menggugah semua hati untuk satukan semangat menjaga bumi,” jelas Nika Vira sebagai ketua panitia pelaksana acara ini.

Narasumber yang diundang adalah pihak warga yang terkait dengan kejadian perseteruan warga Samin dengan pihak Semen Gresik 2014 silam, yaitu Gunretno, Gunarti dan Sukinah. Bukan kebetulan para pejuang tanah Kendeng kebanyakan adalah dari kaum wanita atau  ibu-ibu sehingga menarik bagi Dewi Candraningrum (dari Jejer Wadon & Jurnal Perempuan) dan Soka Handinah Katjasungkana (dari LBH APIK Semarang) untuk ikut menjadi narasumber dalam diskusi ini.

“Bumi memang diidentikkan dengan feminisme dan perempuan sebagai sumber kehidupan. Sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk merawat bumi sebagai sumber kehidupan. Tidak hanya melihat bumi dari kacamata kegunaan saja sampai kita lupa bahwa kita juga berasal dari alam.” Ujar Dewi

Gunretno juga menceritakan alasan mengapa ia dan warga Samin memperjuangkan tanah Kendeng dari pendirian pabrik semen karena ingin menjaga kelestarian bumi yang hijau, serta menjaga kesejahteraan petani yang menjadikan tanah dan air sebagai sumber utama. Banyak kebaikan alam bagi manusia selain tanah subur untuk menyambung hidup manusia juga tanah kapur (karst) mampu menyerap karbondioksida 2x lebih banyak. Akan menjadi tidak baik bila tanah kapur ini terus dikeruk oleh pabrik semen.

“Untuk itu rawatlah bumi tanah air kita, jangan diambil manfaatnya saja namun diolah dan diusahakan untuk tetap lestari dan seimbang sebagai wujud ekspresi cinta kita pada ciptaanNya,” tandas gunretno. (jow)

Kategori: ,