LRT Sangat Mahal, Dorong BRT Dulu
Jumat, 11 Maret 2016 | 13:03 WIB

JWP 06-03-2016 LRT Joko

Investasi dan Operasional Bus Lebih Murah

TREM dulu menjadi angkutan masal, kata pengamat tanpsortasi di Universitas Katholik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setijowarno, di saat wilayah Kota Semarang hanya berbatas Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur dengan jumlah penduduk yang masih sangat sedikit. Kala itu masih banyak kayu jati yang bisa dijadikan untuk bahan bakar uap. "Dulu ada trem, karena industri otomotif tak sebagus sekarang," tuturnya.

Sambungan dari hal. Yang perlu diambil pelajaran dari sejarahtersebut adalah semangatnya dalam memfasilitasi kebutuhan transportasi masyarakat dari pusat pemerintahan, perdagangan maupun tempat-tempat lain. "Untuk era sekarang, mengembangkan angkutan masal harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keuangan pemerintah," katanya.

Memang pemerintah pusat sedang gencar mengembangkan light rail transit (LRT). Bahkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng juga saat ini sedang melakukan kajian untuk membangun LRT untuk wilayah Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, dan Purwodadi atau aglomerasi Kedungsepur. "Namun Kota Semarang yang perlu dikuati justru pengembangan bus rapid transit (BRT) dulu. Sambil memikirkan dan menyiapkan LRT untuk 5 atau 10 tahun lagi," katanya.

Menurutnya, pengembangan angkutan masal bus jauh lebih murah ketimbang LRT. Selain itu, jangkauan trayek bus bisa lebih luwes menjangkau kawasan permukirnan. Dan pengembangannya juga jauh lebih murah. "Jangan pernah meninggalkan transportasi berbasis bus," tandasnya.

Sedangkan jalur LRT hanya menjangkau jalur utama saja. Memang sangat menunjang untuk kebutuhan khusus dan mendesak seperti adanya gelaran Asian Games di Jakarta. Tapi untuk membangun LRT di atas tanah, per kilometer biayanya sekitar Rp 30 miliar, belum harga keretanya per unitnya sekitar Rp 10 miliar, ditanabah biaya operasionalnya yang juga mahal. Karena harus memberikan subsidi kepada rnasyarakat.

"Kalau LRT di bawah biayanya akan lebih mahal lagi. Perbandingannya, kalau di atas tanah 1, kalau jalur layang 3, dan di bawah tanah dibutuhkan biaya 10 kali lipat dari biaya membangun di atas tanah," tuturnya.

Selain itu, jelasnya, untuk jalur di dalarn tanah di Kota Semarang, membutuhkan teknologi khusus yang harganya juga sangat mahal. "Hal ini karena struktur tanah pantai di Kota Semarang yang memang membutuhkan teknologi khusus," katanya.

Sedangkan untuk pengembangan transportasi bus, imbuhnya, Rp 10 miliar bisa digunakan untuk membeli 15 unit bus mini atau 8 unit bus besar. Selain investasinya lebih murah, biaya operasionalnya juga lebih murah ketimbang LRT. "Untuk 5-10 tahun ini, transportasi Kota Semarang yang perlu diperkuat justru angkutan bus. Narnun tetap harus menyiapkan pengembangan LRT di masa depan," tandasnya. (ida)

Kategori: