Koro, Kacang Lokal yang layak Dikembangkan
Kamis, 17 Maret 2016 | 11:49 WIB

TRBJ 16_03_2016 Koro Kacang Lokal Layak Dikembangkan

KORO atau sering disebut kacang koro terrnasuk dalam kelompok kacang-kacangan (leguminose). Koro banyak tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dapat dijumpai di daerah Wonogiri, Temanggung, Grobogan dan beberapa daerah lain. Namun demikian hingga saat ini produksi koro belum tercatat secara jelas di dinas pertanian ataupun muncul dalam data yang disajikan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Penanaman koro dilakukan oleh petani sebagai tanaman tumpang sari atau tanaman sela dan biasanya digunakan sebagai cadangan bahan pangan pada waktu musim kering.

Tanaman koro merupakan tanaman adaptif, bisa tumbuh di daerah kering dan perawatan minimal. Produksi koro per hektar relatif lebih banyak dibandingkan dengan kedelai. Pada koro benguk ataupun koro pedang dapat dihasilkan hingga 4 ton per hektar sedangkan kedelai hanya sekitar 2 ton per hektar. Petani umumnya memanfaatkan koro mulai dari polong muda (disebut ‘kepek’) untuk sayur, sedangkan polong tua digunakan untuk tempe dan pembibitan. Sedangkan pemanfaatan koro untuk pengolahan makanan lainnya masih sangat terbatas, misalnya dibuat kecap, snack, dll.

Koro memiliki varian yang relatif banyak, menurut Widianarka, dkk (2003) dalam bukunya "Menuai Polong" tercatat ada 23 jenis koro, akan tetapi hanya ada beberapa jenis yang sudah biasa dikonsumsi oleh masyarakat seperti koro benguk (Mucuna pruriens L atau Velvet bean), koro pedang (Canavalia ensiformis atau Jack bean), koro glinding (Phaseolus lunatus atau Lima bean), koro gude (Cajanus cajan atau Peagi-on pie) dan kecipir (Psopho-carpus tetragonolobus (L.) DC atau Winged bean).

Kebutuhan kedelai Indonesia untuk produksi tempe, tahu, kecap dan bahan pangan lainnya di tahun 2015 mencapai sekitar 2,5 juta ton sedangkan produksi kedelai menurut data BPS (2015) hanya sebesar 982.967 ton. Sehingga ada kebutuhan impor kedelai yang cukup besar mencapai sekitar 60 %. Hal ini sesungguhnya dapat menjadi peluang untuk koro dikembangkan menjadi tanaman pangan yang potensial, sebagai alternatif dan membantu mencukupi kebutuhan kedelai agar jumlah impor kedelai dapat diturunkan.

Kandungan gizi pada berbagai jenis koro relatif baik dilihat dari kandungan proteinnya yang sekitar 24 -32 %, kandungan lemak antara 3 – 17 % dan karbohidrat sekitar 50 – 60 %. Namun demikian masih banyak orang yang belum memanfaatkan koro sebagai bahan pembuatan tempe maupun kecap karena di dalam koro terkandung senyawa asam sianida yang bersifat toksik.

Asam sianida (HCN) adalah senyawa beracun dengan ambang batas 50 ppm/kg berat badan, dan sebenarnya senyawa tersebut dapat dihilangkan dengan proses perendaman, pemanasan dan fermentasi. Penelitian Handadjani (2001) menunjukkan bahwa pada koro benguk yang diolah menjadi tempe dengan perlakuan perendaman selama 72 jam (dengan penggantian air setiap 8 jam) dan fermentasi/ pemeraman ternyata pada tempe tersebut sudah tidak terkandung asam sianida sehingga aman untuk dikonsumsi.

Pengolahan koro menjadi tempe memang membutuhkan waktu yang lebih lama khususnya dalam waktu perendaman dan perebusan, namun dengan teknologi perajangan koro menjadi granul akan mempercepat penghilangan asam sianida. Koro dalam ukuran yang lebih kecil akan memiliki luas permukaan yang lebih besar sehingga asam sianida lebih mudah terlarut, sehingga proses pengolahan menjadi produk makanan menjadi lebih pendek.

Pemanfaatan koro untuk menjadi produk pangan perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah, industri makanan, perguruan tinggi/ lembaga reset serta masyarakat secara umum. Hal tersebut dimaksudkan supaya koro makin dikenal secara luas serta kebutuhan terhadap koro meningkat. Kondisi tersebut akan menggairahkan petani koro dalam memproduksi koro dan diharapkan dari bahan pangan lokal dapat berkontribusi menjadi bahan pangan global. (*) (Tribun 16/3/2016 hal. 2)

Kategori: