Ketika Kudeta Dianggap sebagai Hal Biasa
Kamis, 17 Maret 2016 | 11:05 WIB

8989-0001

SEMARANG – Tidak mudah untuk menghentikan aksi kudeta terhadap pemerintahan Thailand yang hingga kini telah terjadi sebanyak 19 kali. Di antara 19 kali kudeta yang telah terjadi, ada yang berhasil, namun lebih banyak gagal.

Penulis buku Ratta Praham di Negeri Gajah Putih, Teddy Prasetyo, mengatakan kudeta yang berhasil berarti pelaku makar berhasil menggulingkan pemerintah sebelumnya dengan pemimpin pemerintah yang digulingkan tidak melakukan perlawanan dan tinggal di pengasingan sampai akhir hidupnya. Salah satu contoh, ia mengatakan, adalah kudeta terhadap PM Phibun Songkram oleh Sarit Thanarat pada 1957, di mana Phibun diberi kesempatan tinggal di pengasingan di luar negeri.

Sedangkan kudeta yang gagal berarti gerakan para pelaku makar dapat ditumpas oleh penguasa. "Contohnya adalah kudeta gagal terhadap pemerintah Prem Tinasulanond pada 1981 dan 1985," kata Teddy dalam bedah buku karyanya di Unika Soegijapranata, kemarin.

Diskusi yang diselenggarakan oleh Rotary Club Semarang Kunthi itu dimoderatori oleh sastrawan Triyanto Triwikromo. Selain Teddy, hadir sebagai pembicara dosen Unika Soegijapranata Benedilctus Danang Setianto dan dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Adi Joko.

Kurang Objektif
Teddy adalah pria kelahiran Muntilan yang tinggal selama lebih dari 40 tahun di Thailand. Keinginannya untuk menulis buku tersebut bermula dari upaya dia untuk belajar bahasa negara itu dengan cara blusukan ke berbagai daerah.

"Selama proses belajar itu, saya melihat peristiwa unik yang sering terjadi. Masyarakat setempat bahkan menganggap kudeta adalah hal biasa. Namun, kudeta terakhir, yakni pada 2014, telah membawa krisis yang berlarut-larut," kata dia.

Ia mengatakan, akibat dari kudeta tersebut tidaklah bisa dianggap remeh. Dalam ranah media, Teddy menulis di dalam bukunya, stasiun televisi kerap menjadi sasaran awal untuk melancarkan kudeta. Hal itu karena sebanyak 80 persen penduduk negeri itu memilih televisi sebagai sumber berita. Para pekerja pers juga sangat rentan menjadi korban. Pada 2010, ia mencatat sebanyak dua pekerja pers tewas tertembak ketika meliput aksi kudeta, sedangkan lima lainnya terluka.

Menurut Benediktus Danang Setianto, buku tersebut cenderung membela pemerintahan Thaksin yang digulingkan sejak 19 September 2006. Ia menilai, secara ilmiah, pilihan bahasa dan ungkapan dalam buku tersebut kurang objektif. "Namun sebagai buku bacaan, buku ini memberi sebuah perspektif," ujamya.

President Rotary Club Semarang, Kunthi Cindy Bachtiar mengatakan bedah buku menjadi bagian dari program yang telah dijalankan organisasinya. "Selain konsisten dalam bidang sosial, kami juga memiliki program political conflict resolution. Bedah buku karyaTeddy menjadi relevan dengan misi kami," kata Cindy. (dhz-72) (SM 17-03-2016 hal. 28)

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com/

Kategori: ,