Jengah pada Gay, Permisif pada Lesbian
Kamis, 3 Maret 2016 | 15:36 WIB

Sekilas Kehidupan LGBT di Thailand

KABARET ALCAZAR : Di Alcazar, Pattaya, Thailand, para transgender mendapatkan ruang ekspresi berkesenian seluas-luasnya. (30 )Akhir Februari lalu, dosen dan mahasiswa angkatan ke-21 Magister Hukum Kesehatan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang kuliah kerja lapangan (KKL) ke Thailand. Selain meneliti persoalan bioteknologi dan jaminan kesehatan, mereka juga mempelajari mengapa lesbian, biseksual, gay, dan transgender (LGBT) merebak di Negeri Gajah Putih. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo yang terlibat dalam penelitian itu.

TIDAK terlalu sulit mencari jawaban atas pertanyaan, mengapa Thailand seakan-akan menjadi ”surga” bagi orang-orang yang memilih menjadi LGBT. Fiorency, mahasiswi Teknologi Pangan yang sedang belajar di Bangkok, membeberkan pengalaman berelasi dengan mereka. ”Kami biasa bertemu dengan mereka di pasar malam atau bus. Menonton mereka bermesraan di depan umum juga hampir setiap hari.

Itu karena di sini memang tidak ada larangan untuk tindakan semacam itu. Para transgender juga bisa bekerja di mana pun. Mereka tampil lebih cantik ketimbang para perempuan sehingga industri kosmetik kian memanfaatkan kemampuan mereka.” ”Berapa jumlah mereka?” tanya Hermawan Pancasiwi, salah satu dosen yang mendampingi penelitian yang dilakukan selama empat hari itu. ”Cukup banyak.

Setidak-tidaknya 10 persen dari penduduk Thailand,” kata Asst Prof Dr Patchanee Yasurin dari Departemen Teknologi Pangan Fakultas Bioteknologi Universitas Assumption, di Bangkok. Masyarakat tidak resah? ”Masyarakat tidak resah berhadapan dengan mereka. Kami tumbuh berdampingan dengan mereka. Kehadiran mereka tidak dianggap sebagai sesuatu yang kontroversial,” kata perempuan muda yang akrab disebut dengan panggilan Tik itu.

Ungkapan Fiorency dan Prof Tik boleh dianggap sebagai persepsi kaum terpelajar terhadap LGBT. Bagaimana tanggapan orang kebanyakan? Ban Jong, pemandu tur lokal, dengan gamblang memaparkan segala hal yang dia ketahui tentang mereka. ”Kami sudah terbiasa melihat bencong berjalan atau bercumbu dengan laki-laki.

Kami juga terbiasa melihat perempuan tomboi berkencan dengan perempuan lembut. Akan tetapi, kami masih jengah melihat laki-laki bermesraan dengan laki-laki.” Ia menambahkan, ”Banyak perempuan Thailand yang berpacaran dengan perempuan Thailand.

Banyak pula bencong Thailand dengan laki-laki Thailand. Tetapi, sedikit laki-laki Thailand yang berpacaran dengan laki-laki Barat.” Sejak kapan sesungguhnya negeri itu berada dalam situasi semacam ini? ”Mungkin sejak 20 tahun lalu. Sebelumnya, seorang jenderal akan malu memiliki anak laki-laki berpenampilan perempuan.

Seorang jenderal bisa saja membunuh anak semacam itu,” tuturnya. Penerimaan pada transgender, menurut Ban Jong, bisa ditengarai dari kemunculan ungkapan saw prabes song (jenis perempuan kedua) untuk para waria. Meskipun demikian, karena masyarakat tak sepenuhnya suka, ada ledekan untuk mereka, yakni kaktei (agak kasar), dan tut (kasar). Bagaimana persepsi kalangan agama terhadap LGBT.

”Agama tidak pernah membicarakan mereka. Namun, yang saya tahu pasti, mereka tidak diberbolehkan menjadi biksu atau biksuni,” kata Prof Tik. Menurut Ban Jong, negara tidak melarang mereka melakukan ritual perkawinan. Tetapi mereka tidak akan pernah mendapatkan surat kawin. Negara juga tetap mencantumkan jenis kelamin laki-laki di KTP para waria.

”Jadi, negara tampaknya tidak melarang, tetapi juga tidak melegalkan. Yang jelas negara hadir bukan sebagai sosok penindas. Negara muncul sebagai sosok humanis dalam persoalan LGBT,” simpul Dr Endang Wahyanti Y, Sekretaris Prodi Magister Hukum Kesehatan.

Tak Didiskriminasi

Apakah jumlah LGBT yang begitu tinggi memengaruhi jumlah pengidap HIV/AIDS? ”Sebelum 1989 jumlah penderita HIV/AIDS pernah tinggi. Jumlah itu bisa ditekan karena masyarakat diproteksi dengan berbagai perilaku hidup dan seks sehat,” lanjut Tik.

”Alat-alat untuk seks sehat dijual di tempat umum. Di toilet-toilet ada mesin kondom,” ujar Fiorency. Bagaimana jika kemudian para LGBTsakit? Apakah mereka mendapat perlakuan istimewa? ”Tak ada diskriminasi.

Siapa pun, masyarakat Thailand atau internasional, tak peduli orientasi seksualnya, akan dilayani di rumah sakit ini,” kata Chayada Klinpongsa, Manajer Urusan Internasional Rumah Sakit Samitivej Srinakarin. Yang juga menarik, di sana LGBT sama sekali tak jadi persoalan heboh.

Tiga media utama (Bangkok Post, The Nation, dan Prachatai.com), menurut Wisnu Tri Hanggoro, Manajer Program Pengembangan Jurnalisme Southeast Asian Press Alliance yang mukim di Bangkok, tidak pernah menganggap LGBT sebagai persoalan kontroversial.

”Para wartawan yang memiliki pemahaman memadai tentang LGBT justru sering menjadi juru bicara bagi mereka jika hak LGBT dilanggar.” Juga tidak jadi komoditas politik. Kata Wisnu, meskipun Thailand terbelah dalam polarisasi politik kuning (proraja) dan merah (pro- Thaksin), keduanya tak menjadikan LGBTsebagai tunggangan politik.

Tak ada yang pro atau kontra. ”Mengapa bisa seperti ini? Apakah ada sesuatu di luar yang kita ketahui sehingga LGBT bisa begitu gampang diterima di Thailand? Apakah ada keluarga raja yang menjadi bagian dari kultur LGBT?” tanya Dr Lindayani MP, Dekan Pascasarjana Unika. Wisnu tidak menjawab. Justru karena tidak ada jawaban itulah, para peneliti mencoba membaca sejarah para raja Thailand.

Ternyata di beberapa situs, muncul data Raja Vajiravudh, Rama VI dari Siam, ditengarai sebagai gay dan biseksual. Apakah karena ada contoh seperti ini sehingga LGBT merebak? Tentu tidak. Yang jelas, kata Wisnu, Thailand tidak melihat LGBT sebagai bahaya. Karena bukan bahaya, maka di berbagai tempat, termasuk di Alcazar (Pattaya) dan Calypso (Bangkok) para transgender bisa menggelar kabaret.

Dan jangan heran jika di imigrasi Bandara Don Muang, siapa pun bisa menyaksikan para transgender menjadi pengawas barang-barang penumpang yang harus disortir atau boleh dibawa terbang. ”Ia lebih teliti ketimbang pengawas lain. Madu royal saya hampir saja tidak boleh dibawa ke Indonesia,” kata Endang.

Jadi, apa yang bisa dipetik dari fenomena ini? ”Persoalan LGBT dianggap sudah selesai. Thailand, dengan demikian, merupakan negara berkembang yang paling maju memahami persoalan LGBT, sedangkan kita masih terus bertikai untuk masalah yang satu ini. Pertikaian yang tidak kunjung henti,” tutur Wisnu. (59)

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com

Kategori: ,