HUKUM TABUR-TUAI CSR
Kamis, 3 Maret 2016 | 10:38 WIB

Andreas LakoOleh: Andreas Lako
Guru Besar Akuntansi Unika Soegijapranata Semarang; penulis buku "Berkah CSR Bukan Fiksi" (2015)

Dalam suatu seminar yang membahas hakikat dan untung-rugi CSR (corporate social responsibility) baru-baru ini, seorang peserta seminar mengajukan pertanyaan kritis berikut kepada saya: "Pak Andreas, menurut anda sendiri, apa sesungguhnya hakikat CSR? Apakah sebagai suatu kewajiban dan beban ataukah sebagai suatu investasi bagi korporasi?" Pertanyaan itu muncul menanggapi presentasi saya yang memetakan sejumlah definisi CSR dari beberapa sumber referensi.

Menanggapi pertanyaan tersebut, saya menyampaikan tiga pokok pikiran tentang hakikat CSR. Pertama, CSR adalah perbuatan kasih kepada sesama dalam upaya mewujudkan visi atau harapan perusahaan untuk menjadi lebih baik, yaitu agar perusahaan bisa bertumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Kedua, CSR adalah pengorbanan sumberdaya ekonomi (asset) dan nonekonomi (efforts) untuk mencintai dan mengasihi sesama yang mesti dilaksanakan secara tulus-iklas, sepenuh hati dan berkesinambungan. Ketiga, semua pengorbanan untuk melaksanakan CSR merupakan investasi strategis. Pengorbanan tersebut bakal menadatangkan banyak berkah ekonomi dan nonekonomi bagi korporasi di masa datang. Berkah tersebut bakal mendongkrak perusahaan semakin bertumbuh dan berkembang pesat secara berkesinambungan.

Mendengar jawaban tersebut, banyak peserta terlihat tertegun. Mereka saling bertanya satu sama lain. Melihat hal tersebut, saya lalu melanjutkan dengan menguraikan mata rantai hakikat CSR. Tulisan ini mengelaborasi uraian yang pernah saya sajikan dalam forum tersebut.

Mata rantai CSR

Secara umum, mata rantai hakikat CSR bisa dibagi dalam lima bagian. Pertama, CSR sesungguhnya merupakan perwujudan dari visi atau harapan perusahaan. Harapan tertinggi perusahaan adalah agar bisa dicintai, dikasihi dan didukung oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) serta juga agar bisa tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan. Dengan mengelola dan melaksanakan CSR secara baik maka visi tersebut pasti akan dapat terwujud. Jadi, CSR merupakan strategi untuk mewujudkan harapan perusahaan.

Kedua, CSR merupakan perbuatan kasih perusahaan kepada sesama untuk menjadikan para stakeholder (para pihak yang terlibat dalam mata rantai bisnis perusahaan), masyarakat sekitar dan para pihak yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel (LMTD) menjadi lebih baik, lebih bermakna dan berdaya, serta lebih sejahtera hidupnya. Dengan membantu para pihak tersebut menjadi lebih baik dan bermakna maka perusahaan pasti juga akan semakin lebih baik dan bermakna. Jadi, CSR merupakan sarana mewujudkan kasih kepada sesama untuk menjadikan sesama dan perusahaan itu sendiri lebih baik dan bermakna.

Ketiga, CSR adalah pengorbanan sumberdaya ekonomi (aset) dan energi yang dimiliki perusahaan untuk mewujudkan kasih kepada sesama dan lingkungan. Pengorbanan tersebut diwujudkan dalam bentuk biaya-biaya (costs), investasi dan upaya-upaya (efforts) untuk melaksanakan program-program CSR yang telah direncanakan. Pengorbanan tersebut bukanlah menjadi biaya (expense) yang akan mengurangi nilai aset, laba dan ekuitas pemilik. Pengorbanan tersebut merupakan investasi strategis yang bakal mendatangkan berkah ekonomi dan nonekonomi yang berlimpah (intangible benefits) bagi perusahaan di masa datang.

Keempat, CSR berkaitan dengan target masyarakat yang dituju. Karena sumberdaya dan energi yang dimiliki perusahaan terbatas, sementara masyarakat luas yang perlu dikasihi atau dibantu sangat banyak dan luas, maka perusahaan harus fokus dalam menetapkan program, target dan sasaran CSR. Fokus CSR sebaiknya diarahkan kepada karyawan, masyarakat sekitar dan masyarakat luas yang memang memerlukan perhatian khusus dari perusahaan. Untuk kepentingan yang strategis, CSR bisa juga dirancang untuk memperkuat fundamental dan pertumbuhan bisnis perusahaan dengan cara membuat para pihak semakin lebih baik dan bermakna. Jika perusahaan memiliki sumberdaya memadai, CSR juga bisa didesain untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam upaya mengatasi isu-isu sosial dan lingkungan.

Mata rantai kelima, CSR merupakan berkah bagi perusahaan. Berkah tersebut bisa dalam dua bentuk, yaitu berkah finansial dan berkah nonfinansial. Berkah finansial CSR berupa peningkatan efisiensi biaya dan peningkatan pangsa pasar serta penjualan atau penerimaan (revenue) perusahaan. Peningkatan efisiensi dan efektivitas finansial tersebut tentu saja akan meningkatkan laba dan nilai ekuitas pemilik, serta nilai aset perusahaan. Peningkatan finansial tersebut tentu saja juga akan menurunkan risiko liabilitas serta menaikan nilai harga saham bagi perusahaan-perusahaan yang sudah go public. Pertanyaannya, mengapa bisa begitu?

Tabur-tuai CSR

Jawabnya, karena CSR yang dikelola secara baik dan dilaksanakan berkesinambungan akan mendatang banyak berkah nonfinansial (intangible asset) bagi perusahaan. Sejumlah riset empiris melaporkan (Lako, 2015) bahwa secara internal, CSR akan meningkatkan loyalitas, etos kerja, efisiensi, efektivitas dan produktivitas para karyawan. Secara eksternal, fokus CSR untuk menjadikan para stakeholder eksternal lebih baik dan bermakna akan meningkatkan citra dan reputasi perusahaan serta apresiasi pelaku pasar. Juga, akan menurunkan risiko sosial, risiko politik, risiko pasar, risiko bisnis dan risiko finansial serta akan meningkatkan prospek perusahaan.

Penurunan risiko dan peningkatan reputasi serta apresiasi tersebut tentu saja akan berdampak positif meningkatkan efisiensi, produktivitas dan efektivitas finansial secara signifikan dan berkelanjutan. Semakin besar aktivitas CSR dan semakin konsisten perusahaan melaksanakannya maka akan semakin besar pula berkah nonfinansial dan finansial yang diperoleh. Bukti-bukti empiris juga menunjukkan bahwa semakin besar berkah nonfinansial yang diperoleh perusahaan-perusahaan yang peduli CSR maka akan semakin besar pula berkah finansial yang diraup. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya akan menikmati berkah CSR yang berlimpah berupa peningkatan dalam pangsa pasar dan penjualan, laba dan nilai ekuitas, likuiditas dan nilai aset, serta harga saham (Lako, 2015).

Itu sebabnya, kekayaan dan ekuitas dari perusahaan-perusahaan yang peduli padaCSR bukannya menurun pasca melaksanakan CSR, tapi justru semakin meningkat pesat. Perusahaan-perusahaan tersebut juga semakin memperluas dan memperbanyak aktivitas CSR karena mereka merasakan berkah berlimpahnya. Mereka juga sudah merasakan manfaatnya bahwa aktivitas CSR yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan telah mewujudkan visi dan harapan perusahaan yaitu agar bisa tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Contohnya adalah PT SidoMuncul Tbk. Perusahaan jamu yang dinahkodai oleh Irwan Hidayat ini terus konsisten melaksanakan CSR mudik gratis lebaran sejak tahun 1989 hingga saat ini. Dari tahun ke tahun, aktivitas CSR-nya juga terus diperluas dan diperbanyak. Hasilnya, perusahaan ini terus berkembang pesat dan telah bertransformasi dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan publik yang telah go internasional. Dalam sejumlah kesempatan, pak Irwan selalu mengakui bahwa SidoMuncul bisa berkembang pesat seperti saat ini, itu adalah berkat CSR.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat CSR adalah kasih dan berkah. Semakin besar perusahaan menabur kasih atau kebaikan kepada sesama maka akan semakin besar pula kasih dan berkah yang dituai perusahaan. Inilah yang saya namakan sebagai "Hukum Tabur-Tuai CSR."

Sumber : tabloid KONTAN edisi 22-28 Pebruari 2016

Kategori: