Mahasiswa Muslim Yaman Rayakan Valentine di Unika Soegijapranata
Kamis, 11 Februari 2016 | 15:32 WIB

Tiga mahasiswa asing asal Yaman dan Papua Nugini berbagi pengalaman hari valentine di gedung Mikael Unika Soegijapranata, Semarang, Kamis (11/2/2016). Ketiganya berbagi perayaan pengalaman perayaan hari kasih sayang di negara masing-masing di hadapan mahasiswa TRIBUNJATENG, SEMARANG – International Office Unika Soegijapranata menyelenggarakan Valentine‘s day cultural event yang diselenggarakan di gedung Mikael, Kampus Unika di jalan Pawiyatan Luhuru, Kamis (11/2/2014).

Dalam kegiatan itu, tiga mahasiswa asing dan puluhan mahasiswa lokal berbagi pengalaman perayaan lintas negara dan belajar tentang sejarah valentine.

Tidak hanya itu, digelar juga lomba membaca puisi cinta dan workshop membuat cokelat yang bisa diikuti mahasiswa, karyawan, hingga dosen. Dr Ekawati Marhaenny Dukut sebagai Ketua International Office menjelaskan kegiatan ini adalah untuk menarik minat mahasiswa untuk berdiskusi dengan perbedaan budaya.

"Tahun ini ada sepuluh mahasiswa asing program Darmasiswa di Unika, itu yang terbanyak di Semarang, ini menjadi peluang kami untuk menggali diskusi budaya di sini selain untuk saling mengenal antara mahasiswa asing dan lokal," beber Ekawati.

Benar saja dari tiga mahasiswa asing yang datang pengalaman berbeda bisa didapat. Misalnya mahasiswa asing asal Yamanyang belum pernah merayakan Valentine karena di negaranya dianggap Haram, hingga mahasiswa di Papua Nugini yang menyelenggarakan dengan upaya bakar babi.

"Dari sepuluh mahasiswa asing memang hanya tiga yang bisa hadir, hal ini karena kebetulan kegiatan ini diselenggarakan saat libur semester sehingga mayoritas dari mereka sedang berlibur di berbagai daerah di Indonesia," terangnya.

Sementara itu, mahasiswa asal Yaman, Ahmed Hasan Abker menjelaskan ini adalah pengalaman pertamanya merayakan valentine dalam hidupnya. Ahmed mengira awalnya akan menghadiri sebuah pesta dengan musik dan banyak makanan, namun ternyata hanya sebuah seminar.

"Di Negara saya sebagian orang mengatakan haram, namun sebenarnya semangat berkasih sayangnya bagus, jadi semangatnya mungkin yang akan kami bawa ke Yaman," terangnya.

Ia juga senang karena juga diajari cara membuat cokelat dimana di Indonesia valentine identik dengan membagi cokelat.

"Saya menghormati budaya siapapun, Indonesia, atau bahkan rekan kami dari Papua Nugini, kami menghormati kebudayaan siapapun," imbuhnya. (*)

Tautan : http://jateng.tribunnews.com

Kategori: