Berbagi Budaya dalam Hari Valentine
Jumat, 12 Februari 2016 | 8:56 WIB

SM 11_02_2016 Berbagai Budaya dalam Hari ValentineSEMARANG, suaramerdeka – Valentine’s Day yang selalu diperingati pada Februari merupakan momentum bagi semua orang untuk berbagi kasih meski ada perbedaan permaknaan antara timur dan barat. International Office Unika Soegijapranata mefasilitasi mahasiswanya dan mahasiswa darmasiswa berbagi informasi dalam Seminar dan Workshop: Valentine’s Day Cultural Event.

Kepala International Office Dr Ekawati Marhaenny Dukut MHum menyatakan, selain berbagi informasi dan kebudayaan mengenai perayaan Hari Valentine di tiap daerah serta di tiap negara. Kegiatan ini juga mengenalkan mahasiswa darmasiswa kepada mahasiswa Unika Soegijapranata meski jumlahnya banyak. Ada 10 mahasiswa tapi kurang dikenal di dalam internal kampus.

“Mahasiswa Darmasiswa yang ada di Unika Soegijapranata ada 10 orang, paling banyak diantara universitas lainnya di Kota Semarang. Tetapi ironisnya banyak mahasiswa kami yang belum mengenal. Kegiatan ini selain mengenalkan mereka pada lingkungan kampus juga mengenalkan kebudayaan di Indonesia dan negara lain mengenai perayaan Hari Valentine,” kata wanita yang akrab disapa Heni pada sela-sela acara di Kampus Unika Soegijapranata, Kamis(11/2).

Untuk lebih menarik mahasiswa Unika Soegijapranata ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini sambungnya serta mengajak mahasiswa Darmasiswa berperan serta. Juga digelar lomba puisi dalam bahasa Inggris serta kreasi membuat coklat. Sedangkan mahasiswa darmasiswa, diikut sertakan sebagai juri lomba puisi dalam bahasa Inggris.

Selain kegiatan tersebut, juga ada pemaparan Thomas Budi Santoso dari Institute of Soegijapranata mengenai sejarah hari Valentine dan bagaimana seharusnya orang Indonesia menyikapi. Dosen Program Studi Manajemen FEB Unika tersebut membahas Hari Valentine dari berbagai sudut.

Dua mahasiswa darmasiswa dari Yaman Ahmed Hasab Abker dan Mubarak Yahya mengaku, baru pertama kali ini mengikuti perayaan Hari Valentine karena di negaranya tidak pernah ada. Mereka berdua selama ini hanya tahu apa itu cinta yaitu, cinta kepada saudara dan orangtua.

“Kami senang dengan perayaan ini. Kegiatan ini seharusnya bisa dilakukan di tempat yang lebih terbuka dan mengundang banyak orang. Agar lebih banyak yang memahami arti Valentine sesungguhnya,” kata Ahmed yang diamini Mubarak.

Lain halnya dengan mahasiswa darmasiswa lainnya dari Papua New Guinea Sebastian Yuwette, di negaranya perayaan hari Valentine diadakan besar-besaran. Semua orang berpesta dengan membakar babi dan umbi-umbian.

“Kami di sana biasanya pesta, makan babi dan umbi-umbian. Setelah makan bersama, kami menari bersama saling bergandeng tangan dan tidak jarang diantara kami yang perempuan menari topless,” tutur Sebastian yang menyatakan, di lain tempat pasti perayaannya berbeda.

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com

Kategori: