Perilaku Investor Individu di Pasar Modal Indonesia
Kamis, 21 Januari 2016 | 15:46 WIB

RDRS 23_12_2015 Perilaku Investor Individu di Pasar Modal IndonesiaSTRATEGI investasi saham tidak sekedar melihat analisis fundamental (untuk jangka panjang) dan analisis teknikal (untuk jangka pendek) saja. Namun, kenderungan investor sekarang memiliki perilaku yang tidak tertangkap oleh kedua analisis tersebut.

Ada investor yang melihat produk yang dihasil emiten peduli dan ramah akan lingkungan atau tidak. Ada investor yang melihat buah keberhasilan emiten berupa AWARD, yang diberikan oleh institusi terpercaya, baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Ada juga perilaku yang berhubungan dengan emosi investor individu sendiri (emosi positif atau emosi negatif). Perilaku-perilaku inilah menjadi fenomena yang menarik untuk kita bahas pada saat ini.

Perilaku investor individu tidak dapat kita hitung dengan pasti, namun dapat kita rasakan keberadaannya. Perilaku sering sekali berkaitan dengan emosi, ada saatnya emosi positif (cenderung kearah signaling theory) namun ada saaatnya emosi bisa negatif (cenderung kearah panic selling). Emosi investor yang positif sering terjadi pada saat perusahana melakukan aksi (coorporate action), diantaranya penawaran perdana saham emiten ke investor (IPO), pembagian dividen (saat cum dividen), dan stock split. Investor cenderung menangkap aksi perusahaan ini positif untuk mendapatkan imbal hasil dengan waktu sehari sampai dengan tiga hari.

Sedangkan, emosi yang negatif sering dilakukan oleh investor bila berkaitan dengan kondisi makro ekonomi atau politik suatu negara tidak kondusif. Kondisi makro ekonomi terutama erat dengan kuat atau melemahnya nilai tukar uang Rupiah (IDR) terhadap Dolar Amerika (US$). Kemudian, tingkat pertumbuhan ekonomi negara tetangga seperti India, China, Amerika, Inggris, Zona Euro, Kanada, dan Jepang dikarenakan emiten maupun investor banyak dari negara-negara tersebut. Terakhir, peristiwa yang sering amati oleh investor individu adalah tingkat suku bunga Amerika Serikat oleh The Fed, yang sampai sekarang belum diumumkan.

Prediksi pertumbuhan ekonomi 2016 di beberapa negara versi IMF yaitu India sebesar 7,5 persen; China sebesar 6,3 persen, Indonesia sebesar 5,1 persen, Amerika Serikat sebesar 2,8 persen, Inggris sebesar 2,2 persen, Kanada sebesar 1,7 persen, Zona Eropa sebesar 1,6 persen, dan Jepang sebesar 1.0 persen (www.imf.org). Hal ini menunjukkan Indonesia di tahun 2016 akan kembali membaik (dari 4,7 persen dapat pulih menjadi 5,1 persen).

Banyak sektor yang dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian Indonesia, dari konstruksi-infrastruktur sampai ke pariwisata. Sektor konstruksi-infrastruktur merupakan hasil dari pembangunan yang telah dimulai di tahun 2014, berdampak jangka menegah (2016-2017) dan jangka panjang (2018-2020).

Kemudian, sektor pariwisata, dikeluarkannya Perpres Nomer 104 tahun 2015 berisikan perubahan tentang Bebas Visa Kunjungan (perubahannya menambahkan jumlah negara penerima BVK menjadi total 90 negara). Hal ini berdampak meningkatkan jumlah kunjungan wisman dari negara-negara penerima manfaat BVK sebanyak 1 juta pertahun dengan potensi devisa US$1 miliar. Kebijakan Perpres Nomer 105 Tahun 2015, terkait dengan kunjungan kapal wisata (Yacht) Asing ke Indonesia.

Kilas balik dari ujar presiden kita pak Jokowi pada saat kunjungannya ke Amerika Serikat di bulan Desember 2015 ini. Beliau mengungkapkan pemerintah Indonesia menargetkan ekonomi digital pada tahun 2020. Hal ini sudah menjadi perioritas oleh Kominfo 2016, ada penetrasi backbone untuk kota kabupaten terhubung oleh optik 100 persen di tahun 2016, serta kota daerah rural terhubung optik sebesar 85 persen, juga penghujung tahun 2016 (www.bisnis.com).

Investor individu memiliki emosi dalam melakukan transaksi, emosi postif dan negatif yang menghasilkan signal positif maupun negatif. Itu semua merupakan bagian dari siklus psikologis investor individu. Setiap pakar saham pasti sering mengatakan, kenali gaya transaksi anda, tidak ada satu pun strategi berinvstasi saham yang sama untuk setiap investor individu. Oleh karena itu, mari kenali perilaku berinvestasi anda, maka anda akan melakukan transaksi yang cenderung menguntungan anda dalam bertransaksi saham. Selamat mengenali pola perilaku investasi anda. (ELMS). (*)

Oleh:
Elizabeth Lucky Maretha Sitinjak
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang

sumber : www.radarsemarang.com

Kategori: