Nunggoni, Niteni, Nambahi
Senin, 18 Januari 2016 | 8:49 WIB

RDS 13_01_2016 Nunggoni, Niteni, NambahiOleh: M. Widyanto
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang

KONSEP bisnis di atas bukanlah ide saya. Konsep bisnis ini tercetus dari seorang pemilik warung es kelapa muda langganan saya. Orangnya ramah dan suka menyapa siapa saja yang mampir di warungnya. Dalam obrolan santai ketika saya mampir di warungnya, beliau dengan lancar menerangkan konsep yang dipakainya dalam mengelola bisnisnya. Beliau mengaku rajin membaca buku-buku tentang bisnis.

Saya menduga beliau mengambil inti sari beberapa buku bisnis dan menerapkan dalam bisnisnya. Atau mungkin saja konsep ini sudah diseminarkan di beberapa tempat dengan pembicara-pembicara hebat dan terkenal.Ketiga kata ini berasal dari bahasa daerah yaitu bahasa Jawa ngoko atau bahasa jawa standar.

Bagi saya konsep Nunggoni, Niteni, dan Nambahi ini adalah ide hebat terutama untuk pengelolaan jangka menengah dan panjang terutama untuk pengelolaan bisnis yang sudah berjalan. Bisnis yang sudah berjalan memerlukan pengelolaan yang tepat. Jika salah sedikit saja bisa berakibat timbulnya berbagai macam masalah bisnis yang bisa berakibat bisnis menjadi terganggu atau bahkan tutup. Bagaimana caranya?

Pertama konsep nunggoni (menunggu). Kata nunggoni artinya menunggu dengan ditandai kehadiran fisik. Kata menunggu disini dapat diartikan pemilik bisnis atau owner harus sering hadir secara fisik melihat perkembangan bisnisnya. Kegiatan fisik nunggoni antara lain ikut melayani beberapa pelanggan loyal untuk menumbuhkan kepercayaan dan mempererat hubungan. Dalam bahasa manajemen mungkin lebih tepat diartikan memantau. Misal menyapa dengan namanya dan menanyakan kabar pekerjaannya. Konsep nunggoni ini dapat dikembangkan untuk memantau beberapa potensi masalah bisnis dan diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan ini misal apakah bisnis sudah berjalan baik? Pertanyaan ini penting dijawab dengan melihat keadaan lapangan.

Jika bisnis sudah berjalan seperti yang direncanakan maka tinggal menjawab pertanyaan berikut yaitu apa saja ada kendala di operasional? owner dapat memantau apakah barangnya sudah tersedia dengan baik dan tidak menciptakan masalah antrian misalnya. Kegiatan ini dapat juga memantau kualitas layanan staf kepada pembeli dan pelanggan. Setelah itu owner perlu melihat dan menjawab pertanyaan berikut apakah sudah tercipta pelanggan yang loyal? Pelanggan loyal adalah urat nadi dari bisnis apapun. Mereka akan membuat bisnis kita berkembang. Pelanggan yang loyal harus dikelola dengan baik supaya bertambah jumlahnya dan bertambah pula kebutuhannya yang dapat kita sediakan.

Kata kedua adalah niteni yang berarti mengamati. Apa saja yang harus diamati pebisnis ketika di lapangan? Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan dalam proses pengamatan ini adalah melihat produk mana saja yang paling disukai pelanggan dan produk mana yang belum di “lirik” oleh pelanggan. Mengikuti kegiatan nunggoni diatas antara lain dengan melayani pelanggan yang komplain karena akan lebih mudah melakukan perbaikan layanan bisnis. Kegiatan lainnya adalah mengamati segmen yang datang di bisnis kita. Segmen menjadi penting supaya kita bisa fokus berbisnis.

Bagaimana profil segmen kita? Segmen adalah sekelompok calon pelanggan dan pelanggan yang relatif sejenis misalnya dari lingkungan kelas menengah dengan pendapatan sekian setiap bulan. Kemudian kita bisa menjawab pertanyaan selanjutnya yaitu sudah sesuaikah dengan rencana bisnis kita? Segmen yang tepat dan jumlahnya cukup akan membuat bisnis kita lebih stabil. Produk akan lebih cepat terjual dan ini baik adanya.

Kegiatan Niteni ini dapat diartikan membuat semacam database pelanggan serta karakteristiknya. Untuk bisnis yang relatif kecil membuat database hanya perlu dengan ingatan kita saja sedangkan ketika bisnis mulai terlihat growth-nya maka kegiatan membuat database tentu disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Apakah pelanggan sudah dapat dikenali dengan baik? Owner busisness harusnya sangat memahami bahwa database pelanggan menjadi informasi kunci dalam mempertahankan keberlangsungan bisnis.

Kata ketiga adalah nambahi atau mengembangkan. Pebisnis dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kalau segmennya sudah dapat, produk sudah diterima lalu apa yang perlu dikembangkan? Kata nambahi atau mengembangkan adalah konsep yang dilakukan untuk semakin melayani kebutuhan segmen yang sudah terbentuk. Hal ini akan semakin mendekatkan produk kita dengan segmen itu. Dengan mengamati siapa saja yang lebih sering datang memenuhi kebutuhannya dengan produk kita, akan terlihat kebutuhan mana lagi yang bisa kita “sandingkan” dengan produk utama kita. Tentu penempatan produk tambahan ini dengan tetap memperhatikan produk utama sehingga lebih fokus serta menjadi semacam total solution untuk pelanggan kita. Jangan sampai produk tambahan ini malah menjadi kanibal bagi produk utama kita.

Produk utama sudah ada produk sampingan sudah disediakan sehingga lebih komplit tawaran produk kita. Selanjutnya perlu dilihat sudah terlihatkah pesaing yang identik dengan produk kita di lokasi setempat? Konsep nambahi dapat kita pakai untuk mengatasi hal ini. Bukankah sudah ada produk utama dan produk pendamping yang sesuai? Lalu apa lagi yang perlu. Menurut saya adalah penambahan servis yang unik akan semakin membedakan produk kita dengan pesaing. Jika bisnis kafe dengan fasilitas wifi adalah biasa, bagaimana dengan kafe dengan fasilitas menyediakan printer untuk para mahasiswa dan eksekutif muda yang lembur karena mengerjakan tugasnya? Hal itu adalah hanya sebuah contoh bagaimana menggunakan konsep nambahi akan membuat bisnis atau produk kita menjadi terdepan.

Konsep nambahi dapat juga dilakukan dengan memperluas jejaring terutama di situs on line dan media sosial misal facebook, twitter, instagram serta yang lain. Produk kita dapat kita kaitkan dalam berbagai situs on line tadi. Oleh karena itu perlu rajin memasarkan dan menanggapi dari calon pelanggan di situs on line. Tantangan berikutnya adalah menyikapi dengan bijak pendapat-pendapat negatif tentang produk kita. Hal ini perlu disiapkan jauh hari sebelum produk atau bisnis kita akan di kaitkan dengan konsep bisnis on line. Jika belum siap malah akan menambah masalah baru yang tidak perlu. Kita perlu membuat sebuah sistem sederhana yang dapat mendukung penjualan on line. Selain jejaring online yang sedang populer jejaring offline pun juga masih ampuh.

Tiga kegiatan dalam konsep 3N diatas menurut saya harus dilakukan oleh owner business sendiri supaya lebih tanggap dalam melayani pelanggan. Semoga. (*)

sumber : www.radarsemarang.com

Kategori: