ADA GURU BELUM PAHAMI EPILEPSI – Sekolah Perlu Beri Perhatian Lebih
Senin, 18 Januari 2016 | 9:34 WIB

KR 18_01_2016 Ada Guru belum Pahami Epilepsi
SEMARANG (KR) – Saat ini penyandang penyakit epilepsi di dunia cukup tinggi, dengan prevalensi 1-2 persen dari total populasi. Data WHO beberapa tahun lalu menyebut angka 4 sampai 10 orang per 1.000 penduduk dan untuk negara berkembang jumlah prevalensinya lebih tinggi mencapai 6-10 orang per 1.000 penduduk.

"Kasus baru epilepsi 40 sampai 70 orang per 100.000 orang di negara maju serta dua kali lipatnya di negara berkembang. Ditengarai masih ada guru maupun sekolah yang belum paham tentang epilepsi, sehingga belum bisa memberikan layanan secara baik, saat ada penyandang epilepsi mengalami serangan di sekolah," terang dosen Fak Kedokteran UGM Dr Indria Laksmi Gamayanti MSi dalam seminar tentang epilepsi yang digelar Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang di kampus setempat, Sabtu (16/1).

Selain dr Gamayanti, seminar yang dibuka Dekan Fak Psikologi Unika, Soegijapranata Dr Margaretha Sih Setija Utami ini juga menampilkan pembicara Dr Marc Hendriks dari Radboud University, Nijmegen, Belanda.

Menurut Dr Gamayanti, diperlukan pendekatan psikologis pada anak-anak penyandang epilepsi. Dan tidak bisa hanya pada si anak saja melainkan juga pada orang tua, keluarga, guru dan sekolah. Guru dan sekolah harus memahami betul kondisi penyandang epilepsi jangan sampai menjadi objek tontonan, ejekan atau hal negatif lainnya pada siswa penyandang epilepsi. Guru dan sekolah harus benar dalam pemahaman epilepsi.

Sementara itu Dr Marc Hendriks menyatakan, saat ini sedikitnya ada 250 jenis epilepsi dan tiap tahunnya selalu bertambah jumlahnya sejalan dengan ditemukan jenis-jenis penderita baru. Namun kesamaan dari berbagai jenis itu ditandai dengan adanya kerusakan otak penderita karena berbagai faktor, termasuk kemungkinan akibat diabetis. (Sgi)-g

Kategori: