Toleransi dan Kebhinekaan Menurut Mgr. A. Soegijapranata, SJ
Rabu, 16 Desember 2015 | 8:52 WIB

Salam Damai edisi 72-Oktober 2015, Toleransi dan KebhinekaanSalam Damai edisi 72-Oktober 2015, Toleransi dan Kebhinekaan2INDONESIA merupakan negara ke-4 dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta di dunia setelah Cina dengan jumlah penduduk sekitar 1,2 milyard, India sekitar 1,06 milyar, dan AS sekitar 294 juta. Dan tidak dipungkiri lagi Indonesia menjadi negara urutan pertama yang penduduknya menganut agama Islam dengan jumlah sekitar 199 juta atau 85 % dari jumlah penduduknya dan selebihnya menganut agama Katolik, Kristen, Budha, Hindu, Kong Hu Chu dan aliran kepercayaan. Indonesia mempunyai suku berjumlah 1.128 buah.

Dengan melihat data tersebut Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam budaya dan agama cukup banyak serta heterogenitas yang luar biasa. Sehingga muncullah keberagaman atau kebhinekaan. Maka tidak bisa dipungkiri lagi akan muncul kelompok mayoritas dan minoritas. Apabila tidak dijaga hal ini akan menimbulkan kesenjangan di berbagai aspek, balk ideologi, sosial, politik, budaya, keamanan maupun ekonomi.

Bicara tentang kebhinekaan bukan hal yang asing di Indonesia karena negara kita memiliki potensi tersebut dengan jumlah penduduk, suku dan agama yang cukup banyak dibanding negara lain. Kelimpahan dan berkat (banyaknya penduduk, suku dan agama) itu merupakan anugerah dari Tuhan. Hal itu hendaklah dijaga dan dirawat dengan baik. Keragaman (kebhinekaan) itu haruslah dibingkai dengan apa yang disebut Toleransi.

Kehidupan Toleransi sejak zaman dulu sudah muncul di bumi Indonesia. Toleransi dalam konteks sosial, budaya dan agama berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Toleransi di Indonesia selalu dihidupi dan diusahakan oleh para pemimpin negara maupun pemimpin agama. Ada dua model toleransi yaitu toleransi umat beragama dan toleransi sosial.

Toleransi umat beragama lebih mengedepankan sikap saling menghargai para pemeluk agama dan tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama yang sama dengan dirinya serta tidak mencela dan menjelekkan agama orang lain. Sedangkan Toleransi Sosial lebih mengutamakan kepada kelompok mayoritas untuk menghargai kelompok minoritas di dalam masyarakat. Dalam kehidupan politik pun saat ini haruslah diusahakan adanya toleransi politik bagi para pegiat politik dalam berbagai partai yang ada di Indonesia.

Di bumi pertiwi yang kita cintai ini kadang ada gesekan-gesekan yang terjadi akibat adanya pertentangan dan pertikaian yang mudah meletup apabila dikaitkan dengan isu agama. Salah satu contoh kasus Poso Ambon. Kalau kita dalami bersama sebenarnya bukan masalah agama yang menjadi penyebab utama, tetapi adanya kesenjangan ekonomi dan politik. Kadang beberapa oknum menggunakan isu agama untuk menjadi pemicunya. Agama dijadikan kambing hitam karena kehidupan agama itu menyangkut dua dimensi yaitu pribadi dan kelompok. Maka sangatlah mudah mengusik dua dimensi tersebut, karena agama menyangkut keyakinan pribadi yang hakiki setiap orang dan tidak bisa diintervensi balk pribadi, kelompok maupun negara.

Solusinya sebenarnya terletak pada niat baik pemerintah dan rakyat untuk menjaga bangsa ini agar aman dan nyaman. Toleransi adalah kata kuncinya. Maka, suasana toleransi harus selalu dijaga dan dirawat secara terus-menerus dalam masyarakat. Contoh yang paling mudah adalah dengan dialog karya. Dialog karya adalah sebuah kegiatan yang melepas segala atribut balk dari strata sosial, ekonomi, politik dan agama untuk mengadakan kegiatan sosial yang mengedepankan pada kohesiviness atau kehangatan untuk saling memberi dan menerima dengan kerendahan hati. Kesadaran bahwa kita semua sebagai manusia mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Pendidikan Karakter

Sikap toleransi dapat dikembangkan dan dilestarikan melalui model dan sistem pendidikan karakter atau kepribadian. Pendidikan pertama yang harus ditekankan adalah mengedepankan penghargaan terhadap hakekat manusia. Hal ini sangatlah diharapkan dapat diperoleh sejak muda. Meminjam istilah Rama Drijarkara Si adalah Memanusiakan Manusia. Hal ini haruslah dilaksanakan sejak pendidikan dalam keluarga bagaimana kita membekali kehidupan agama para orang muda. Dan kita sebagai orang yang lebih dewasa haruslah memberikan contoh bagaimana kita menjalankan kehidupan agama dengan tindakan-tindakan yang nyata bukan pada teori-teori saja. Pendidikan yang kedua adalah pendidikan yang mengarah pada sikap positif. Maksudnya, dalam pikiran manusia harus selalu ditanamkan sikap positif, selalu memikirkAn hal-hal yang baik, saling menghargai, membantu dll. Dan pendidikan yang ketiga adalah pendidikan religiusitas karena dalam pendidikan itu selalu mengedepankan tentang penyadaran dalam diri dan perilaku manusia yang sempurna sebagai ciptaan Tuhan dalam menghadapi kehidupan masyarakat yang heterogen dan kompleks.

Sejak kecil harus dikenalkan dengan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di dalam keluarga. Karena kita semua yakin dengan pendidikan toleransi yang dimulai dari keluarga niscaya ketika seorang anak keluar dari lingkup kehidupan keluarga, anak akan mampu menghadapi perbedaan dan keragaman dengan pengalaman kehidupan toleransi dalam keluarga.

Dewasa ini perkembangan teknologi sangatlah mempengaruhi sikap hidup manusia. Namun sebenarnya bukan terletak pada perkembangan teknologi yang pesat, tetapi pada manusia yang menggunakannya. Teknologi bisa menjadi alat untuk berkomunikasi yang menimbulkan provokasi negatif atau teknologi dapat digunakan sebagai sarana komunikasi menyebarkan kedamaian dan kesukacitaan. Contohnya, orang Katolik mengirim ucapan selamat hari raya kepada para sahabat penganut agama Islam saat merayakan idul fitri, sebaliknya juga menerima ucapan selamat natal dari sahabat-sahabat yang beragama Islam, Hindu dan Budha.

Kepada generasi muda sebaiknya kita selalu memberikan contoh dengan karya nyata bukan mengajarkan teori-teori. Dengan karya nyata atau biasa disebut dialog karya sangatlah nyata dan membekas dalam benak pikiran baik dalam anggota keluarga, tempat kerja dan masyarakat. Dalam keluarga kadang kita mengingatkan asisten rumah tangga untuk menunaikan sholat di hadapan anak-anak. Bahkan saat lebaran kita bisa mengajak anggota keluarga berkunjung ke para tetangga untuk memberikan ucapan Idul Fitri. Di masyarakat selalu terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dan sosial. Contohnya menjadi panitia acara halal bi halal, panitia idul qurban, ikut kenduri orang yang punya hajat dan lain-lain.

Sebagai permenungan dan perutusan, kita bisa menyimak apa yang pernah ditulis oleh Mgr. Alb. Soegijapranata tentang masalah toleransi dan kebhinekaan : “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul, dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan sebuah keluarga besar.”

Sedangkan ungkapan lain dari Mgr. Soegija pada waktu ditanya oleh Kepala Kantor Kompetai Jepang di Semarang perihal pandangan sikap negeri Indonesia dahulu dan sekarang adalah :”…Kami mendidik kecintaan kepada bangsa dengan menghormati ba(ha)sa, hidup, dan adat kebangsaan tan pa percekcokan, kemajuan dalam sopan santun, dalam budi pekerti, kesehatan, pengetahuan, kartiyasa, kesenian, kesusasteraan, keuangan, dll”. Kalau kita cermati bersama apa yang diucapkan Mgr. Soegija sangatlah visioner. Sebagai pemimpin agama beliau mengajak untuk menghormati dan menghargai kebhinekaan dengan sebuah sikap toleransi yang selalu dijunjung tinggi.

Kebhinekaan di Indonesia adalah sebuah karunia dari Tuhan, maka haruslah kita jaga dan kita rawat dengan sebuah bingkai yang dinamakan toleransi. Dalam hal ini pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia harus semakin menyadari bahwa kita semua diciptakan oleh Tuhan sebagai mahluk ciptaan yang paling sempurna. Sudah sewajarnyalah kebhinekaan yang ada di bumi Indonesia ini harus tetap dijaga dengan dibarengi toleransi yang selalu terus diusahakan keberadaannya dalam kehidupan masyarakat.

Ignatius Dadut Setiadi
Anggota The Soegijapranata Institute Unika Soegijapranata,
Sekretaris Dewan Paroki Bongsari 2013 -2016

Sumber : Salam Damai, edisi 72, Volume 07, Oktober 2015

Kategori: