MEA Perlu Inisiatif Riset Bersama Asean
Senin, 21 Desember 2015 | 20:49 WIB

KR 21_12_2015 MEA Perlu Inisiatif Riset Bersama AseanSEMARANG (KRjogja .com)– Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc menyatakan pihaknya akan melakukan atau menginisatif tentang Asean Research Initiatife (inisiatif penelitian bersama Asean).

“Ini diperlukan oleh negara-negara Asean karena di Era MEA, ada sejumlah permasalahan yang sama harus dihadapi bangsa-bangsa Asean. Banyak pakar dan praktisi pendidikan Indonesia boleh saja bicara muluk-muluk tentang publikasi internasional dan jurnal prestisius dan saya fine atau setuju saja, namun pada tataran yang sama, kekuatan bersama Asean harus digali bersama karena masalah yang dihadapi bangsa-bangsa Asean sama” ujar Rektor Unika pada acara wisuda 251 Diploma, Sarjana dan Pascasarjana di kampus setempat, Sabtu (19/12/2015).

Menurut Prof Budi Widianarko, masalah yang sama di antaranya petani Filipina rata-rata berusia 57 tahun dan saat ini dipertanyakan di Filipina nantinya 10 tahun ke depan siapa yang akan “memberi makan” bangsa Filipina karena para petani sudah tua dan kalangan muda tidak ada yang tertarik jadi petani. Indonesia mengalami hal sama, petani saat ini rata-rata usianya 52 tahun, tidak ada anak muda yang tertarik jadi petani, lalu 10 sampai 15 tahun ke depan siapa yang akan “memberi makan” bangsa Indonesia.

Lewat inisiatif riset bersama negara-negara Asean, ibarat membidik dua sasaran cukup dengan satu batu. Selain itu juga data riset bersama tentang Asean menjadi bahan berharga untuk publikasi internasional karena data bersama Asean masih langka. Unika berharap Indonesia bisa menjadi pemain utama pada MEA maupun riset bersama Asean dan Unika pada skala kecil ingin jadi pemain yang baik tentang integrasi Asean.

“Satu-satunya kunci ada di mutu pendidi tinggi Indonesia dan penguasaan bahasa Inggris. Kebijakan kita nanggung dimana di satu sisi mengarah ke internasionalisasi tetapi sisi lain bahasa Inggris tidak diimplementasikan sebagai bahasa sainteks di Indonesia. Sehingga di banyak perguruan tinggi program pertukaran mahasiswa dan dosen Indonesia ke luar negeri mengalami kendala karena bahasa Inggris yang kurang. Tetapi kenapa Malaysia mudah karena mereka menggunakan bahasa Inggris untuk sainteks, Filipina sejak TK sudah diajari bahasa Inggris meski Filipina punya bahasa nasional Filipino.

Indonesia masih ragu-ragu soal bahasa Inggris, contohnya predisen RI berpidato berbahasa Inggris di forum internasional saja sudah banyak disoal, disalahkan.” Tandas Rektor. (Sgi)

sumber : krjogja.com

Kategori: