Teodosius Domina Herta Putra – Kutitipkan Secuil Kenangan Bersamamu
Selasa, 8 Desember 2015 | 16:37 WIB

Teo wisudaHidup itu ibarat sebuah perjalanan. Apabila kita tahu tempat yang akan dituju, kita akan dengan mudah menentukan transportasi apa serta jalan mana yang akan dipilih.

Hal ini diungkapkan Teodosius Domina Herta Putra, eks-wartawan KRONIK yang diwisuda pada bulan Desember 2015. “Artinya, sejak muda kita harus punya goal setting. Dengan demikian, kita bisa mempersiapkan diri kita dengan lebih untuk menghadapi masa depan,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa dengan memiliki goal setting ini, seseorang juga akan dipaksa mengenali dirinya. Hal ini akan membuatnya memiliki konsep diri yang baik.

“Di sebuah mata kuliah yang saya ambil dulu, saya disadarkan bahwa memiliki konsep diri ini penting lho. Soalnya sebagai anak muda kita hidup di tengah dunia yang cepat sekali berubah, terutama karena perkembangan teknologi. Semua informasi dapat kita dapat hanya dengan menggerakkan jempol,” ungkap pemilik nama panggilan Teo ini.

“Kalau tidak punya konsep diri yang baik, kita akan mudah terombang-ambing lantas terjerumus ke hal-hal buruk,” imbuh lulusan Fakultas Psikologi yang pernah menjadi ketua UKM Paraga dan anggota Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi ini.

Tekuni Hobi

Pernyataan di atas tidak hanya ia katakan. Ia berusaha menerapkan apa yang ia pelajari dalam kehidupan nyata.

“Setelah disadarkan mengenai konsep diri tadi, saya pun berusaha mengenali diri saya. Misalnya mengenai hobi. Saya senang membaca. Dari hobi membaca itu, saya banyak mendapat insight. Nah, kadang-kadang muncul keinginan yang kuat untuk membagikan insight itu,” aku wisudawan berzodiak Pisces ini.

“Dari situ pula saya tertarik terlibat di KRONIK, karena bisa membagikan insight lewat tulisan. Kadang juga bareng teman-teman ngisi retret, rekoleksi, outbound juga training-training yang lain,” imbuhnya.

Dengan menekuni hobi itu ia merasa mendapat manfaat ganda. “Pertama, ada kepuasan batin karena bisa menyalurkan hobi. Kedua, mau tidak mau keterampilan saya pun terasah. Jadi apa yang saya dapat di kelas bisa saya praktekkan,” katanya.

Ia juga mengaku mendapat manfaat tidak langsung. “Dengan menekuni hobi membaca, ternyata manfaatnya saya dapat dalam pengerjaan skripsi. Akhir bulan Maret judul saya baru disetujui, akhir bulan Juli di tahun yang sama sudah sidang skripsi,” tuturnya.

Ketika ditanya tanggapan tentang perkuliahan di Unika Soegijapranata ia menjawab, ”Sejak awal Unika concern tidak hanya pada pengembangan pengetahuan, tapi juga kepribadian mahasiswa. Karyawan dan dosen pun bisa menjadi sahabat bagi mahasiswa. Semoga hal ini selalu dikembangkan.”

“Terima kasih Unika. Kutitipkan secuil kenangan bersamamu,” pungkasnya menutup wawancara.(dmn)

Kategori: ,