HADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN – Perguruan Tinggi Jangan Tenang-tenang Saja
Selasa, 22 Desember 2015 | 8:42 WIB

KRJ 21_12_2015 PT Jangan Tenang-tenang saja

SEMARANG (KR) – Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc, merasa resah terkait dengan rencana integrasi ASEAN atau yang populer dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tinggal hitungan hari dimulai.

"Keresahan saya karena sikap dunia perguruan tinggi Indonesia tenang-tenang saja, sementara negara ASEAN lain seperti Thailand dan Filipina sudah jauh hari resah akan MEA dan jauh hari pula sudah mempersiapkan diri," ujar Rektor Unika sebelum mewisuda 251 Diploma, Sarjana dan Pascasarjana, Sabtu (19/12).

Keresahan lain, ujar Rektor Unika, tentang adanya masifikasi pendidikan tinggi Indonesia. Jumlah perguruan tinggi (PT) di Indonesia sangat banyak sekitar 4.000, tetapi Rektor khawatir PT belum bisa menyediakan lapangan kerja yang layak bagi lulusannya. Ia juga khawatir yang terjadi di Filipine bisa terjadi di Indonesia. Di Filipina saat ini untuk jadi pelayan toko dan satpam banyak yang lulusan S-1. Universitas menghasilkan banyak lulusan, tetapi kemudian lapangan kerja yang cocok tidak tersedia.

Para TKW Filipina sama-sama ke Hongkong seperti halnya TKW Indonesia, tetapi motivasi TKW Indonesia sederhana untuk bisa kerja 3 tahun, pulang bisa bikin rumah di Indonesia dan kalau perlu berhenti jadi TKW.

"TKW Filipina beda, mereka jadi TKW di Hongkong hanya sebagai batu loncatan untuk nantinya ke Inggris atau Amerika, sehingga banyak TKW Filipina sebagai pembantu rumah  tangga di Hongkong yang lulus S1. Cita-cita mereka jelas," ujar Budi Widianarko.

Lebih lanjut dikatakan, tindakan TKW Filipina akhirnya memicu problem brain drain yaitu orang-orang hebat pergi dari daerahnya meninggalkan orang kurang hebat di sana. Ini menjelaskan kenapa Filipina tahun 1960-an jadi negara paling diirikan di Asia, sementara sekarang menjadi negara terpuruk di Asia. Prof Budi khawatir ‘jebakan’ yang terjadi di Filipina bisa melanda Indonesia.

Terkait MEA, ujar Budi, begitu dibuka orang Filipina begitu agresif. Artinya mereka paham kalau market terbesar ASEAN itu Indonesia.

“Nah, saya lihat kok kita tenang-tenang saja. Tenang itu bukan hanya soal regulasinya tetapi bahkan literasinya atau melek tentang ASEAN saja kurang. Saya beberapa kali ngomong soal ini dan tidak bosan karena ini penting. Untuk itu, Unika Soegijapranata melakukan sesuatu terkait MEA di antaranya banyak mengirim mahasiswa dan dosen ke ASEAN. (Sgi)-o

Kategori: