Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Gelar Seminar Pengelolaan Heritage City
Senin, 16 November 2015 | 10:02 WIB

Menjaga eksistensi kota lama agar terus hidup dan berkembang menjadi kajian utama Seminar yang diselenggarakan Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata TRIBUNJATENG .COM, SEMARANG – Menjaga eksistensi kota lama agar terus hidup dan berkembang menjadi kajian utamaSeminar yang diselenggarakan Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata, di ruang Theater, Gedung Thomas Aquinas, Sabtu (14/11/2015).

Dengan mengundang narasumber pakar dari negeri Belanda langsung, yakni Mr. Steef Buijs, Drs Boudewijn Goudswaard, dan tak lupa Rektor Prof. Dr. Y. Budi Widianarko mereka mengangkat tema “Empowering Partnership and Understanding Social Impact in Heritage Management”.

Humas Unika, Agus Yuwono menerangkan kegiatan ini telah dilakukan rutin sejak tahun 2012. “Selain itu, seminar ini didahului dengan kegiatan worskhop selama 3 hari mulai tanggal 11 hingga 13 November 2015 kemarin,” paparnya.

Ia menerangkan, permasalah yang diangkat dalam seminar itu adalah tentang bagaimana memberdayakan masyarakat baik dari dalam maupun luar “Kota Lama” untuk menjaga eksistensi Kota Lama sebagai “Heritage city”.

“Tidak lupa juga bagaiamana heritage mampu memberi kontribusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di masyarakat dengan potensi yang ada,” paparnya.

Sebuah gagasan yang diusulkan oleh Prof Budi dalam seminar itu adalah untuk mengembangkan Kota Lama adalah melalui konsep “foodscape”, di mana mengkaitkan antara kuliner khas Semarang dengan lokasi di Kota Lama.

“Kota Lama secara alami mengalami perubahan yang mengarah ke “city as a foodscape”. Di samping itu keberadaan aktivitas yang berhubungan dengan makanan mampu menjadi penanda kawasan dan menciptakan peluang-peluang untuk pengembangan Kota Lama,” terang Rektor Unika tersebut.

Menurutnya, makanan menjadi penting karena memiliki beberapa keunggulan untuk menopang kehidupan pariwisata. Beberapa diantaranya adalah karena makanan selalu dibutuhkan dan menarik, bisa menjadi elemen sentral dalam pertukaran budaya, hingga mampu menjadi bagian dari pariwisata yakni wisata kuliner. (*)

sumber : jateng.tribunnews.com

Kategori: