Tingkat Isian Angkutan Umum di Jawa Tengah Memprihatinkan
Jumat, 2 Oktober 2015 | 11:10 WIB

TRBJ 2_10_2015 Tingkat isian angkutan umum di jawa tengah memprihatinkanTRIBUNJATENG,COM, SEMARANG — Load factor atau tingkat isian bus antar kota dalam Provinsi (AKDP) cukup memprihatinkan. Rata-rata di bawah 40 persen, bahkan ada yang hanya 20 persen.

Hasil perhitungan load factor untuk 5 trayek bus AKDP di Jateng, yaitu Solo-Sragen 20 persen, Solo-Tawangmangu (Karanganyar) 26 persen, Solo-Purwantoro (Wonogiri) 22 persen, Solo-Terboyo (Semarang) 24 persen dan Solo-Mangkang (Semarang) 38 persen. Armada yang siap operasi hanya kisaran 20-50 persen dari yang ada.

"Jika dibiarkan seperti ini, dapat diprediksi 5 tahun ke depan banyak usaha angkutan umum akan gulung tikar," kata pakar transportasi sekaligus dosen Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, Jum’at (2/10/2015).

Menurutnya, bagi trayek AKDP kawasan aglomerasi dapat disegerakan dibuatkan jaringan BRT dengan konsep buy the service. Semua angkutan harus berbadan hukum dan diberi subsidi, tidak ada lagi sistem setoran.

"Melihat kondisi seperti ini, modelnya harus diubah. Sopir digaji tetap bulanan dengan waktu kerja 8 jam sehari," ujarnya.

Sedangkan yang jarak jauh juga dipikirkan bentuk insentif lain yang meringankan pengusaha angkutan umum, seperti keringanan pajak, bebas bea suku cadang, dan lainnya.

Sementara itu, jam perjalanan dan rata-rata kecepatan perjalanan angkutan umum untuk rute Solo-Sragen tercatat selama 90 menit dan 20 km/jam. Solo-Tawangmangu 95 menit dan 25 km/jam. Solo-Wonogiri 95 menit dan 30 km/jam. Solo-Semarang 190 menit dan 35 km/jam.

Berdasarkan hasil penelitian  laboratorium transportasi Unika Soegijapranata dengan Dishubkominfo Jawa Tengah pada bulan September tahun 2015, diketahui penyebabnya adalah karena orang banyak pakai motor yang dimana cara untuk mendapatkan motor pun sangat mudah.

"Kemudian kesulitan orang menuju akses angkutan umum, urban prawl, Suka-suka tempatnya sehingga daerah yang tidak ada fasilitas tetap dibangun masyarakat, layanan angkutan umum buruk, pemerintah tidak membangun infrastruktur sesuai demand, perhitungan yang tidak tepat," jelasnya. (*)

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

sumber : jateng.tribunnews.com

Kategori: