Tak Mengatasi Kemacetan
Kamis, 8 Oktober 2015 | 11:53 WIB

JTP 5_10_2015 Tak mengatasi kemacetan

Ir. Drs Djoko Setijowarno
Pakar Transportasi Semarang

WARGA Kota Semarang tentu sudah mengetahui kotanya dalam 10 tahun terakhir sudah menjadi salah satu daerah yang padat lalu lintas dan sering mengalami kemacetan. Jumlah kendaraan meningkat baik motor dan roda empat, belum lagi adanya angkutan umum, serta dengan didukung jumlah penduduk yang terus bertambah.

Jumlah tersebut tidak dibarengi dengan sarana dan prasarana yang memadai khususnya ruas jalan yang lebar dan tertata. Saat ini di setiap jalur makin ramai, apalagi di daerah perempatan atau persimpangan jalan. Bahkan sudah banyak permasalahan mengenai kemacetan yang sering dikeluhkan warga.

Seperti kemacetan parah di perempatan Jatingaleh. Terutama pada jam-jam sibuk karena Jatingaleh terdapat persimpangan lalu lintas dari jalan utama dari kota bawah dan atas, serta arus masuk serta keluar tol.

Banyak orang berpendapat bila perempatan Jatingaleh perlu dibuatkan jalan baru melintas di bawah tanah atau sering disebut Underpass, dan ada pula yang berpendapat perempatan Jatingaleh perlu dibuatkan jembatan layang atau fly over seperti di bundaran Kalibanteng.

"Kalau saya amati bila perempatan Jatingaleh dibuatkan underpass atau fly over justru tidak mengatasi masalah. Sifatnya hanya memindahkan saja. Solusinya pemerintah harus membuat semacam Analisis Dampak Lalu-lintas (Andalalin)," jelas Ir Drs Djoko Setijowarno, Pakar Transportasi Semarang yang juga dosen Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang.

Menurutnya, adanya proyek pembangunan Underpass di Jatingaleh yang saat ini tengah berjalan justru bisa mengabaikan hak pejalan kaki. Secara langsung di lapangan, dirinya justru mempertanyakan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Andalalinnya.

"Bila dalam proyek Underpass nantinya bila tidak terlihat adanya fasilitas bagi pejalan kaki sangat disayangkan karena saya melihat ada pejalan kaki yang melintas di pinggir pagar pembangunan Underpass. Pejalan kaki tersebut harus melewati jalan raya yang juga dilewati kendaraan bermotor; dan ini jangan sampai terjadi," jelasnya.

Dikatakan, bila ingin dibangun proyek Underpass Jatingaleh, Pemkot Semarang, perlu belajar pada pelaksana proyek Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta. Ketika sudah tahap pembangunan MRT, fasilitas pejalan kaki tidak dihilangkan, bahkan dibuat khusus dan dilindungi dengan pagar pengaman agar terlindungi dari serempetan kendaraan bermotor.

"Saat ini masalah jumlah kendaraan juga menjadi penyebab kawasan Jatingaleh macet dan perlu solusi untuk mengurangi kemacetan. Di bundaran Kalibanteng adanya fly over juga membantu mengurai kemacetan," pungkasnya. (gus/muz)

Kategori: