Pakar Beton Jepang: Konstruksi Beton di Pesisir Semarang Terkorosi Air Laut
Kamis, 29 Oktober 2015 | 16:59 WIB

PAKAR BETON - Prof Hiroshimi (berdiri) memaparkan penelitiannya tentang pengaruh air laut dalam konstruksi beton dalam seminar internasional yang diadakan di ruang theater Thomas Aquinas, Unika, Kamis (29/10/2015). TRIBUNJATENG .COM, SEMARANG – Pakar Beton asal Jepang Profesor Hiromichi Shirato memaparkan konstruksi beton yang terpapar air laut memiliki daya tahan yang lebih lemah dari pada yang tidak terpapar oleh air laut.

Hal itu sesuai dengan kondisi jalan di Semarang Utara yang mayoritas konstruksinya juga menggunakan Beton. Hal itu disampaikan Hiromichi dalam sebuah seminar internasional Beton dan Infrastruktur di Auditorium Unika Soegijapranata, Kamis (29/10/2015).

"Air laut bisa merasuk ke tulang besi beton sehingga mampu menyebabkan korosi dalam besi dan mengurangi kekuatannya," terang Hiroshimi kepada awak media sebelum dirinya berbicara dalam seminar.

Ia memaparkan masa efektif beton yang terkorosi air laut hanya kurang dari 20 tahun. Setelah itu besi akan berkarat hingga tidak mampu lagi menopang beban di atasnya. Kota Semarang harus siap dengan peremajaan itu terutama untuk beton-beton yang sering terkena air rob.

Selain, Hiroshimi ada juga Dr Abrahamm Cristian dari Singapura, Rendy Thamrin dari Universitas Andalas, Padang, dan dari Unikadiwakili oleh Dr Retno Susilorini.

Humas Unika, Agus Yuwono menerangkan materi seminar internasional bukan hanya soal pengaruh garam, namun juga penambahan madu dan rumput laut untuk meningkatkan kekuatan beton yang dibawakan oleh dosen Unika, hingga beton berserat yang mampu lebih banyak menyerap air.

"Prodi Teknik Sipil Unika menerima bantuan penyelenggaraan seminar internasional ini dari direktorat penelitian dan pengabdian masyarakat Kemenristek Dikti dan beberapa sponsor," imbuhnya. Ia menjelaskan kegiatan ini memiliki tujuan utama untuk mempublikasikan penelitian terbaru tentang beton dan infrastruktur. (*)

sumber : jateng.tribunnews.com

Kategori: