Centre for Trauma Recovery Unika Adakan Pelatihan Penanganan Korban Bencana
Kamis, 29 Oktober 2015 | 12:46 WIB

AbimanyuKegiatan pertemuan Centre for Trauma Recovery Fakultas Psikologi diselenggarakan di Ruang 204B Gedung Antonius pada hari Senin, 26 Oktober 2015 pukul 17.30 yang diikuti oleh 30 peserta dengan narasumber Christa Vidia Rana Abimanyu, S.Psi., M.Psi disambut sangat antusias oleh peserta.

Sebelum mengawali sesi, terlebih dahulu narasumber memberikan sebuah tes kecil untuk peserta pelatihan CTR. Peserta diminta untuk menuliskan nomor dari nomor 1 sampai 33, dari setiap nomor tersebut diberi skor 0 hingga 3.  Test tersebut diberikan untuk mengetahui tingkat stress yang dialami oleh para peserta. Dan dari tes ini, narasumber mengubungkan dengan tingkat stress yang dialami oleh para korban bencana. Korban bencana stress disebabkan karena saat bencana terjadi, mereka kehilangan anggota keluarga yang mereka sayangi, kehilangan harta benda, bahkan kehilangan pandangan hidup akibat efek dari bencana tersebut.

Para peserta juga diberikan informasi mengenai pengalaman Anggota CTR yang pernah terlibat langsung dalam misi kemanusiaan untuk memberikan pendampingan bagi para korban bencana. Peserta ditunjukan dokumentasi dari anggota CTR saat melaksanakan tugas di Merapi pada tahun 2010, bencana di Gunung Kelud tahun 2014 kemarin, bencana longsor di Kab. Banjarnegara tahun 2015 ini.

Dalam pertemuan ini juga dibahas tentang bagaimana mereka menolong korban bencana, mulai dari berangkat, take action dengan terjun ke lokasi bencana, membantu para korban dalam kondisi psikologisnya, apa saja yang biasanya dilakukan dalam menangani korban bencana. Tak hanya bencana alam saja yang dibahas dalam sesi ini, bencana social juga menjadi topic dalam pembahasan. Seperti saat Christa Vidia Rana Abimanyu, S.Psi., M.Psi yang akrab disapa Mas Abi ini menolong untuk memulihkan korban pemerkosaan anak dibawah umur di daerah NTT, ia bercerita bahwa korban yang ditangani ini mulai dari usia paling muda yang menjadi korban pemerkosaan yaitu sekitar 4 Tahun hingga usia 16 Tahun.

“Dalam menolong pemulihan trauma anak korban pemerkosaan, ada satu lagi hal yang membuat hati saya miris, yaitu ketika saya membawa snack makanan kecil dan banyak anak yang mengerubungi saya. Ketika saya tawarkan snack tersebut justru mereka memilih air mineral. Ternyata saya baru mengetahui bahwa air mineral disana menjadi barang yang sangat mewah. Bahkan mungkin ketika anda menawarkan antara sebatang coklat dan segelas kecil air mineral, anak-anak tersebut lebih memilih air mineral.” Ungkap Mas Abi.

Selain itu, dalam sesi ini ditekankan untuk para peserta agar ketika terjun langsung ke lokasi bencana, harus siap secara mental, fisik,  dan tentunya mau bekerja keras. Karena pada dasarnya membantu pemulihan trauma merupakan tugas pelayanan terhadap sesame manusia. (ign)

Kategori: ,