Stefanny Wijaya – Hadapi masalah agar tidak menghantui
Rabu, 2 September 2015 | 13:52 WIB

stefanyejak kecil saya menyukai makanan dan saya bercita-cita untuk membuka usaha yang berkaitan dengan pangan” tutur Stefanny Widjaya, wisudawan terbaik periode Agustus 2015. Karena alasan itulah gadis ini mengambil studi teknologi pangan di Unika Seogijapranata. Kenapa memilih unika, dan bukan universitas lain, gadis ini menuturkan unika adalah pilihan tepat untuknya, dan dia yakin unika paling sesuai, karena fakultas teknologi pangan unika terbilang bagus dan bermutu.

Segudang prestasi berhasil diraih oleh gadis yang akrab disapa Fany ini. Dalam lomba karya tulis inovatif mahasiswa provinsi Jawa Tengah tahun 2003, Fany berhasil meraih juara pertama. Tidak berhenti sampai disitu, sepak terjangnya membuahkan hasil, sehingga dia berhasil lolos sebagai perwakilan mahasiswa untuk mengikuti LIMUN (London International Model United Nation). “Bagi saya event tersebut benar-benar menantang karena saya harus mempelajari sesuatu yang benar-benar baru bahkan belum pernah terpikirkan sebelumnya (saya harus belajar tentang PBB). Hal lain yang membuat LIMUN menjadi berkesan adalah karena melalui event ini saya juga mewujudkan mimpi saya, yaitu mengunjungi Stamford Bridge (Stadion Sepakbola Chelsea FC)” tutur gadis yang telah berhasil mewujudkan salah satu impiannya ini.

Pemilik motto hidup “Never give up on what your heart believes, don’t let anything else interfere”, yang tidak pernah menyerah dan terus berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya, tidak hanya meraih banyak prestasi. Selama perkuliahan Fany disibukkan dengan menjadi asisten dosen beberapa mata kuliah dan mata pratikum (Praktikum Mikrobiologi Pangan, Praktikum Teknologi Pengolahan Susu, Aplikom I dan II). Selain itu, juga pernah diminta sebagai narasumber untuk acara Radio Fokus.

“Pengaruh Dosis Kromanin Deamina terhadap Karakteristik Fisiologi Pasca Panen dan Perubahan Kualitas Daging Ayam Broiler selama Penyimpanan Beku dan Penggorengan”, demikianlah judul yang dibuatnya. Proses skripsi yang menarik, karena terkait dengan tema tersebut menuntut Fany memelihara 100 ekor ayam broiler selama 30 hari. “Jujur saja saya merasa kalau penelitian saya lebih mengarah ke ilmu peternakan tetapi bagi saya ini merupakan hal baru sehingga cukup menantang. Meskipun ada beberapa kendala yang cukup fatal selama penelitian tetapi dengan usaha keras dan bimbingan dosen akhirnya selesai juga dengan baik” ungkapnya.

Dalam menjalani study, Fany banyak belajar dari kegiatan kuliah sampai dengan kegiatan organisasi kampus, sehingga tentu saja hal itu tidak akan lepas dari banyak kendala yang muncul seiring dengan kegiatan yang dijalani tersebut. Dengan adanya berbagai kendala, kita semua belajar untuk lebih dewasa dan lebih siap menghadapi tantangan. Ketika ditanya bagaimana cara mengatasi berbagai kendala, Fanny mengaku lebih kepada berusaha untuk memotivasi dirinya, memiliki target dan impian yang harus dicapai, dan ketika menghadapi persoalan tetap berfikir bahwa semua masalah adalah proses yang harus dilalui untuk mencapai cita-cita. “Setiap masalah bukan sesuatu untuk dihindari tetapi harus dihadapi dan diselesaikan agar tidak menghantui terus-menerus”, tambahnya.

Gadis peraih IPK 3,81 ini mengaku tidak pernah memiliki tujuan untuk menjadi wisudawan terbaik. Baginya wisudawan terbaik hanyalah bonus, karena yang terpenting adalah lulus dan mendapatkan ilmu yang nantinya akan berguna bagi karirnya. “Mungkin saya bisa menjadi wisudawan terbaik karena 2 faktor, yang pertama adalah faktor yang seringkali orang katakan sebagai faktor “luck” tetapi bagi saya ini adalah “blessing” karena saya dikatakan sebagai wisudawan terbaik karena saya memiliki IPK yang tertinggi, seandainya saya mengikuti wisuda pada periode yang lain mungkin saja teman saya memiliki IPK yang lebih tinggi dan bukan saya wisudawan terbaiknya, inilah yang membuat saya merasa menjadi wisudawan terbaik kali ini adalah karena rahmat Tuhan. Sedangkan faktor yang kedua adalah karena bidang pangan memang merupakan passion saya. Dan saya adalah tipikal orang yang tidak suka menghafal tetapi memahami sehingga tidak perlu belajar keras untuk mendapat nilai bagus, cukup dengan memahami maka saya akan lebih mudah mengingat” ungkapnya lagi. Misi kedepannya adalah Fany memiliki cita-cita bekerja untuk FAO atau bisa bekerja di perusahaan multinasional.(Telis)

Kategori: ,