Perlu Bangun Inklusivitas Agama
Selasa, 1 September 2015 | 7:54 WIB

Yeny Wahid -Student Conference Aseaccu

SEMARANG – Survei yang dilakukan Wahid Institute menyebutkan sikap intoleransi antarumat beragama mulai berubah menjadi radikalis hingga teroris. Intoleransi makin mewabah dan terpusat pada penduduk lokal. Intoleransi adalah persoalan utama yang menjadi sumber radikalisme dan terorisme. Pergerakan ketiga hal tersebut terdeteksi. Dari 64% intoleransi, bisa menjadi 21% radikalis dan 15% teroris. ’’Perubahan radikalisme menjadi terorisme kadang tak bisa dielakkan. Ada hubungan kuat, dan bermula dari intoleransi,’’ kata Direktur Wahid Institute, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid, Jumat (28/8).

Inklusivitas sosial dan agama perlu dibangun. ’’Itu untuk menekan intolerasni,’’lanjut dia di hadapan sekurang-kurangnya 82 mahasiswa peserta Konferensi Ke-23 Persatuan Kolese dan Universitas Katolik se-Asia Tenggara dan Asia Timur (Association of Southeast and East Asia Catholic an Universities atau ASEACCU). Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi dan kolese katolik di Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Filipina, danAustralia. Ada 72 perguruan tinggi turut serta dalam konferensi yang digelar di Indonesia dan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang sebagai tuan rumah. Berbagai Cara Ia menyebut berbagai cara untuk membangun inklusivitas agama.

Menghormati tiap makhluk, menghapus stereotipe klise, dan membangun keterikatan antar komunitas. Selain itu, membangun pemahaman satu sama lain, serta menghargai perbedaan dan keragaman agama dan masyarakat. ‘’Yang juga penting, menyebarluaskan catatan yang menguatkan inklusivitas, serta mengidentifikasi persoalan diskriminasi serta prasangka sekaligus menyelesaikannya.’’ Dosen Unika Soegijapranata, Yustina Trihoni Nalesti Dewi pada kesempatan itu menyampaikan studinya mengenai pendidikan perdamaian di kawasan yang rawan konflik agama, dengan studi kasus di Ambon dan Poso. Sementara itu, Ketua Komisi Kerukunan Beragama Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloys Budi Purnomo menyebutkan, kuncinya adalah dialog dengan penganut agama lain. (H89-10)

sumber : berita.suaramerdeka.com

Kategori: