Pakar dan Pengusaha Optimis Indonesia Tidak Kembali Krisis
Jumat, 4 September 2015 | 9:15 WIB
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Manajemen (P3M) Business Talk yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata

SEMARANG, suaramerdeka.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan pada semester pertama hanya mencapai 4,7 persen dari target 5,7 persen, ditambah dengan anjloknya nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 14 ribu, anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)tidak membuat kalangan dunia usaha dan pakar khawatir.

Kekhawatiran krisis ekonomi 1998 terulang kembali ditepis oleh kalangan pengusahan dan pakar dengan berbagai syarat. Fundamental perekonomian yang lebih baik, ditambah kebijakan pemerintah yang mendorong dan mengantisipasi agar tidak kembali seperti 17 tahun silam serta keterlibatan aktif masyarakat.

Hal tersebut terungkap dalam Pusat Pengkajian dan Pengembangan Manajemen (P3M) Business Talk yang digelar oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata bertema “Krisis Ekonomi 1998: Akankah terulang kembali?” dengan menghadirkan tiga narasumber. Tiga narasumber yang dihadirkan antara lain, Didik Soekmono, pengusaha sekaligus dari Kadin Jawa Tengah, Dr A Ika Rahutami, pengamat ekonomi dari FEB Unika Soegijapranata dan Dr Elizabeth Lucky Maretha, pengamat pasar modal dari FEB Unika Soegijapranata.

P3M Business Talk ini dimoderatori oleh Ketua P3M FEB Unika Soegijapranata MG Westri Kekalih S. Didik Sukmono dari Kadin Jateng sekaligus pengusaha berbagi mengenai penyesuaian dunia usaha terhadap politik dan ekonomi terkini. Menurutnya dalam kondisi seperti ini, paling bahaya adalah daya jangkau dan daya beli masyarakat.

"Untuk kami di dunia usaha jika dibandingkan dengan 1998, saat ini masih optimis demikian juga dengan perbankan masih aman. Yang paling penting saat ini, daya beli masyarakat dan tingkat efisiensi dunia usaha belum menumbuhkan daya saing," kata Didik.

Dengan kondisi seperti saat ini, pemerintah seharusnya cepat tanggap dengan menggenjot ekspor dengan memberikan kebijakan berbagai intensif. Saat ini kebijakan pemerintah yang langsung menyentuh dunia usaha untuk mendongkrak ekspor dan meminimalisir impor, belum ada.

"Perlambatan karena pemerintah ambivalen, satu sisi mendorong sisi lain tidak. Permerintah juga tidak melakukan dekresi dan terlalu takut. Regulasi untuk mendukung tidak ada," tuturnya.

Sementara Pengamat Ekonomi FEB Unika Soegijapranata Dr A Ika Rahutami menyatakan, yang berbicara mengenai tekanan eksternal dan fundamental Indonesia. Sampai saat ini menurutnya, Indonesia masih nomor lima pertumbuhan dunia, pertama India, China, Irlandia, Luksemburg dan Indonesia.

"Tidak perlu pesimistik meski hal tersebut dihitung dari pendapatan bruto dimana jumlah penduduk diperhitungkan. Tetapi pemerintah masih anggap pertumbuhan tinggi tetapi kenyataan daya beli masyarakat turun sehingga tidak mampu lagi mengkonsumsi," paparnya.

Lain halnya dengan Dr Elizabeth Lucky Maretha, pengamat pasar modal dari FEB Unika Soegijapranata yang menyampaikan dinamika sektor keuangan, dimana seluruh indeks harga saham gabungan di Asia minus. (Puthut Ami Luhur)

sumber : berita.suaramerdeka.com


	

Kategori: