Andreas: Sejak 2013 Perekonomian Jateng Mengalami Penurunan
Selasa, 8 September 2015 | 14:31 WIB

Andreas: Perlambatan Ekonomi Jateng Tak Terlepas dari Sektor Pertanian

Prof Andreas Lako Pengamat ekonomi Unika Semarang

TRIBUNJATENG .COM, SEMARANG – Perlambatan ekonomi di Jawa Tengah tidak lepas dari melemahnya sektor pertanian dalam dua tahun terakhir. Hal tersebut dungkapkan Pengamat Ekonomi Universitas Soegijapranata (Unika) Semarang, Andreas Lako, baru-baru ini.

Menurut sang Profesor, sejak tahun 2013 hingga sekarang perekonomian Jawa Tengah terus mengalami penurunan. Padahal sektor pertanian merupakan komponen utama perekonomian di Jateng, karena 40 persen penyerapan tenaga kerja berada di sektor ini.

"Pada tahun 2012, pertumbuhan ekonomi di Jateng mencapai 6,3 persen dan sektor pertanian memberikan kontribusi positif mencapai 4 persen," ujarnya.

Andreas Lako menambahkan, saat ini sektor pertanian belum tergarap baik. Terbukti dalam dua tahun belakangan, sektor pertanian di Jawa Tengah mengalami kemerosotan. Hal tersebut ikut berdampak pada pelambatan perekonomian.

"Pemerintah yang lalu, benar-benar memaksimalkan sektor pertanian dengan turun langsung ke sawah memberikan semangat kepada para pentani. Sehingga sektor ini sangat maksimal. Kalau sekarang sektor pertanian sedikit dilupakan," ujarnya.

Selain sektor pertanian, menurut Andreas, melambatnya perekonomian di Jawa Tengah diakibatkan dari minimnya penyerapan anggaran pemerintah. "Pertumbuhan ekonomi dibentuk oleh tiga hal yakni konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah. Selama ini tigal tersebut kurang berjalan maksimal," paparnya.

Menurutnya, kedua faktor tersebut merupakan hal internal yang menyebabkan melambatnya perekonomian Jawa Tengah. Selain itu ada juga faktor eksternal yakni pengaruh melemahnya nilai tukar. "Meskipun melemahnya nilai tukar rupiah akibat pengaruh global, juga berdampak terhadap pereknomian di daerah," tambahnya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk kembali menggairahkan perekonomian di Jateng. Diantaranya kembali membangun sektor pertanian, menyediakan lapangan pekerjaan, dan mendorong terealisasinya penyerapan anggaran.

"Penyerapan anggaran misalnya untuk pembangunan, maka akan memberikan dampak terhadap roda perekonomian, penyerapan tenaga kerja, dan juga konsumsi akan ikut meningkat,” tandasnya. (*)

sumber : jateng.tribunnews.com

Kategori: