Unika Lolos Divisitasi Dikti
Senin, 3 Agustus 2015 | 10:18 WIB

Rektor Unika (dua dari kiri) saat berbicara di hadapan tim visitasi Dikti (3 orang sebelah kanan Rektor). (Foto sugeng irianto)

SEMARANG (KRjogja. com)-Dunia industri dan lembaga pendidikan di Indonesia seharusnya bisa saling menunjang untuk mengoptimalisasi kemajuan serta daya saing bangsa. Namun, potensi tersebut belum disinergikan dengan baik. Untuk itu dukungan universitas sangat diperlukan.

Hal ini diungkapkan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Adang Suwandi Ahmad mewakili Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) saat melakukan visitasi (kunjungan) pendirian program S-3 (doctoral) Bidang Strategi Kepemimpinan ke Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang.

“Dari 62 universitas yang mengajukan proposal pendirian program studi baru, Unika Soegijapranata termasuk 22 yang lolos dan divisitasi Dikti” ujar Prof Adang Suwandi.

Menurut Prof Adang, tujuan timnya melakukan visitasi ke Unika Soegijapranata  untuk menyamakan persepsi. “Kami ke sini bukan untuk melakukan penilaian atas dokumen proposal yang diajukan, tetapi untuk menyamakan persepsi. Harapannya satgas lalu memperoleh inspirasi untuk melakukan revisi dokumen proposal pengajuan program studi baru,” tuturnya. Selain Prof Adang, visitor yang mewakili Dikti lainnya adalah Prof Dr Salengke dan Prof Dr Syamsul Rizal.

Sementara itu dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Dr Cecilia Titiek Murniati saat menyampaikan presentasi di hadapan Prof Adang Suwandi menyampaikan bahwa salah satu misi Unika Soegijapranata membuka program S3 Kepemimpinan Stratejik adalah menghasilkan ahli di bidang ilmu kepemimpinan secara multidisipliner dan interdisipliner guna mendorong kesejahteraan masyarakat dengan menjunjung tinggi etika dan integritas.

“Pengusulan program studi ini juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi faktual bangsa ini yang ditengarai mengalami krisis kepemimpinan. Kerinduan akan pemimpin yang berpihak kepada rakyat, bebas korupsi atau berani mengambil keputusan yang adil harus dijawab oleh perguruan tinggi. Selain itu, kebetulan program studi ini belum ada di Indonesia walaupun universitas lain di luar negeri sudah banyak yang mempunyai program yang sama,” imbuh dosen lulusan S-3 Universitas Iowa, Amerika Serikat tahun 2012 ini. (Sgi)

sumber : krjogja.com/01_08_2015

Kategori: