Pemain Diajak Bersihkan Sampah Lawang Sewu
Rabu, 12 Agustus 2015 | 17:14 WIB

TRJ 12_08_2015 Pemain Diajak Bersihkan Sampah Lawang Sewu

Unika Soegijapranata Luncurkan Tiga Game Android

Dua mahasiswa Unika Soegijapranata ini ingin mengedukasi para pemain game agar peduli lingkungan. Mereka pun menciptakan game unik.

Pagi itu, Elsa Regiana dam Arjun Yovita, dua mahasiswi Jurusan Game Technology Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata terpaku pada layar ponsel dan laptop. Mereka memantau perkembangan game buatannya yang sudah bisa diunduh di Playstore.

Game berjudul ‘Lets Clean’ merupakan hasil karya dua mahasiswi tersebut. Game dengan latar lokasi wisata di Semarang dan sekitar-nya itu memiliki tampilan warna-warni dan grafts yang sangat memanjakan anak–anak. "Kami membuat game itu berangkat dari pengala-man pribadi saat bermain ke beberapa tempat wisata dan mendapati ada sampah berserakan," jelas Elsa Regiana kepada Tribun Jateng saat ditemui di kampusnya, jalan Pawiyatan. Luhur, Kota Semarang, Selasa (11/8).

Oleh karena itu setting yang digunakan game itu adalah Lawang Sewu, Candi Gedong Songo dan beberapa tempat wisata lainnya di Semarang. Cara bermainnya tergolong mudah, pemain hanya tinggal menyentuh sampah-sampah yang ada di lokasi. Semalcin cepat mengumpuikan sampah skornya akan semakin besar. ‘Target game kami memang anak-anak, harapannya game ini selain memberi hiburan juga mengedukasi mereka untuk menjaga kebersihan tempat-tempat wisata," timpal Arjun Yovita.

Yovita ingin membuat setting tempat-tempat wisata lainnya. Dengan begitu, mereka sekaligus mempromo-sikan tempat-tempat wisata di Jateng, khususnya Semarang. "Itu misi lain kami selain men-gedukasi anak-anak," jelasnya. Bukan hanya Elsa dan Yovita, empat mahasiswa Unika lain Olcky Oktavia, Michael Satrio, Imanuel Andro dan Aprilia Ratna juga berhasil membuat dua game edukasi, yakni Berkah Ramadhan dan Food Titan.

Hebatnya, game Berkah Ramadhan dibuat hanya dalam tempo tiga minggu. "Kalau game yang lain punya waktu kurang lebih tiga setengah bulan, kami hanya tiga minggu karena hams dilepas di Playstore sebelum bulan Ramadan lalu, jadi buatnya harus lebih cepet," papar Michael Satrio.

Pemuda yang akrab disapa Yoko itu menyatakan bagian yang memerlukan waktu lama dalam pembuatan adalah soal desain, Ia harus beberapa kali berkonsultasi dengan dosen untuk menentukan desain yang pas dan tepat. "Sempat tiga kali ganti desain," imbuhnya.

Pusat game

Dengan peluncuran tiga game tersebut jurusan Game Tech Unika Soegijapranata bisa menjadi pusat game pendidikan berbasis Andro-id di Kota Semarang. Erdhi Widyarto Nugroho selaku dosen pengampu mata kuliah pemrogaman game menjelaskan, anak didiknya memang diwajibkan untuk membuat game edukasi berbasis Android. "Kami pilih Android karena di Indonesia mayoritas masyarakat menggunakan sistem operasi ini. Harapannya game mahasiswa kami bisa dinikmati banyak kalangan," jelas Erdhi.

Ia menjelaskant tidak menutup kemungkinan bahwa kampusnya akan menjadi pengembang game layaknya perusahaan Gameloft atau EA Sport karena banyaknya game yang dilahirkan dari mahasiswa Unika. "Membuat game memang menjadi kegiatan wajib bagi mahasiswa, sehingga di semester depan akan ada game-game baru lagi yang akan diciptakan mahasiswa Game Tech," papar Erdhi.

Meski demikian ia menandaskan kepada mahasiswanya agar tak cepat puas. la ingin mahasiswa terus mengembangkan dan mengupdate hal-hal baru tentang game. (rifal almanaf)

Kategori: