Model Inklusivitas Agama Layak Ditularkan
Jumat, 21 Agustus 2015 | 9:01 WIB

23rd ASEACCU

Unika Tuan Rumah ASEACCU 23

SEMARANG- Model interaksi antarumat beragama di Indonesia merupakan yang terbaik dibandingkan dengan negara lain. Indonesia memiliki ragam agama yang paling banyak dipeluk penduduk dan warga negaranya. Dengan tingkat kemajemukan yang tinggi, konflik keagamaan yang terjadi relatif rendah dibandingkan negara lain.

Di beberapa daerah ditemui praktik inklusivitas agama dalam kehidupan masyarakat. ”Ada sebuah harmoni yang bisa dipelajari. Bukan tidak ada konflik, namun dalam setiap konflik yang terjadi, ada langkah menuju penyelesaian,” kata Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Prof Budi Widianarko, kemarin.

Menurutnya, dalam cakupan kecil seperti di Jawa Tengah saja sudah bisa ditemui banyak sekali inklusivitas agama. Itulah yang ditawarkan menjadi tema dalam konferensi ke-23 Persatuan Kolese dan Universitas Katolik se-Asia Tenggara dan Asia Timur (Association of Southeast and East Asian Catholic Colleges and Universities atau ASEACCU). Pada kegiatan tersebut, Unika menjadi tuan rumah.

Sekurangnya 82 mahasiswa dari berbagai universitas dan Kolese Katolik di Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Filipina, dan Australia akan mengikuti ceramah dan pembelajaran berbasis pelayanan (service learning).

”Ada dua lokasi untuk service learning ini, yakni Sekolah Kuncup Melati di Kawasan Pecinan Semarang dan di Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung,” kata Ivone E Fernandes, penanggung jawab kegiatan mahasiswa dalam rangkaian konferensi ASEACCU.

Pembicara Kunci

Sementara di Temanggung, masyarakatnya memeluk Islam, Kristen, dan Buddha, namun bekerja sama dengan baik untuk kemandirian pertanian dari dominasi industri dan pasar pertanian.

Para mahasiswa juga akan mengikuti ceramah dengan tema yang sama dari Yenny Wahid (The Wahid Institute). Ceramah juga diisi oleh Ketua Komisi Kerukunan Beragama Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloys Budi Purnomo serta dosen Unika peneliti kerusuhan Poso dan Ambon, Dr Trihoni Nalesti Dewi.

Selanjutnya mahasiswa akan mempresentasikan pemahaman berkait inklusivitas agama di hadapan rektor 72 universitas dari delapan negara peserta konferensi. Selain rektor dan mahasiswa, hingga saat ini telah lebih dari 200 peserta dari delapan negara mendaftar sebagai peserta aktif. Sebagai pembicara kunci konferensi adalah intelektual muslim Prof Ahmad Syafii Maarif didampingi Ketua konferensi Waligereja Indonesia, Ignatius Suharyo.

Menteri Perhubungan, Ignatus Jonan, juga akan berbicara tentang pengalamannya menjadi minoritas dalam birokrasi. ”Kami ingin memunculkan Jawa Tengah. Karena itu, sangat beruntung Gubernur Ganjar Pranowo bersedia menjamu para peserta di Wisma Perdamaian,” kata Budi. (H89-37)

sumber : berita.suaramerdeka.com

Kategori: