Program Doktoral Baru Diharap Bantu Optimalisasi Daya Saing Bangsa
Selasa, 28 Juli 2015 | 11:40 WIB
_DSC1053

Rektor Unika Soegijapranata menyambut kehadiran tim visitor dari Dikti terkait proposal pengajuan program studi S3 Kepemimpinan Stratejik.

Dunia industri dan lembaga pendidikan di Indonesia seharusnya bisa saling menunjang untuk mengoptimalisasi kemajuan serta daya saing bangsa. Namun, potensi tersebut belum disinergikan dengan baik. Untuk itu dukungan universitas sangat diperlukan. Hal ini diungkapkan oleh Prof Dr Adang Suwandi Ahmad di Unika Soegijapranata pada hari Senin (27/7).

Harapan pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut ternyata ditangkap pula oleh Unika Soegijapranta yang mengusulkan pembukaan program studi baru. “Salah satu misi kami membuka program S3 Kepemimpinan Stratejik adalah menghasilkan ahli di bidang ilmu kepemimpinan secara multidisipliner dan interdisipliner untuk mendorong kesejahteraan masyarakat dengan menjunjung tinggi etika dan integritas,” tutur Dr Cecilia Titiek Murniati ketika menyampaikan presentasi.

Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa motivasi pengusulan program studi ini tak dapat dipisahkan pula dari kondisi faktual bangsa ini yang ditengarai mengalami krisis kepemimpinan. “Kerinduan akan pemimpin yang berpihak kepada rakyat, bebas korupsi atau berani mengambil keputusan yang adil harus dijawab oleh perguruan tinggi. Selain itu, kebetulan program studi ini belum ada di Indonesia walaupun universitas lain di luar negeri sudah banyak yang mempunyai program yang sama,” imbuh pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni ini.

Kehadiran Prof Adang ke Unika Soegijapranata adalah dalam rangka visitasi mewakili Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) karena sebelumnya Unika mengajukan proposal pengajuan program studi doktoral baru, yaitu S3 Strategi Kepemimpinan. “Dari 62 universitas yang mengajukan proposal pendirian program studi baru, Unika Soegijapranata termasuk 22 yang lolos dan kami visit,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tujuan timnya melakukan visitasi adalah untuk menyamakan persepsi. “Kami ke sini bukan untuk melakukan penilaian atas dokumen proposal yang diajukan, tetapi untuk menyamakan persepsi. Harapannya satgas lalu memperoleh inspirasi untuk melakukan revisi dokumen proposal pengajuan program studi baru,” tuturnya. Selain Prof Adang, visitor yang mewakili  ialah Prof Dr Salengke dan Prof Dr Syamsul Rizal.(teo)

 

Kategori: , ,