Bermodal ‘Goal Setting’ Sampai ke Norwegia
Selasa, 14 Juli 2015 | 12:41 WIB

IMG_1500

Pembicara Diskusi Bulanan Fakultas Teknik kali ini, Selasa (14/7), tinggal di Norwegia. “Pembicara kali ini adalah kakak kelas Anda. Dia angkatan 1997 dan lulus 2002. Semoga Anda sekalian bisa belajar banyak dari pengalamannya,” tutur Widija Suseno ketika membuka acara.

Benedicta Utami S. Kiplesund, begitu nama lengkapnya. Dibagian akhir namanya tersemat nama asing karena mantan dosen Unika Soegijapranata ini telah menikah dengan warga negara Norwegia. “Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman belajar dan bekerja di Norwegia,” tuturnya ketika mulai berbicara.

Perjalanannya ke Norwegia diawali dengan perjuangannya mendapat beasiswa. “Selepas S1 saya diterima menjadi dosen untuk Program Studi Teknik Sipil. Tapi kan minimal harus S2. Waktu itu saya diterima di 3 program beasiswa, dan yang saya pilih yang di Norwegia,” kisah ibu dua anak yang gelar masternya didapat di bidang Hydropower Development ini.

Pilihan ini membuatnya masuk ke ‘zona berani’. Keberaniannya ini muncul karena tantangan orang tua saya. “Waktu itu saya pengin banget kuliah lagi. Saya bilang sama orangtua saya dan mereka menjawab ‘kami hanya bisa membiayai sampai S1. Kalau mau kuliah lagi carilah beasiswa atau kerja dulu’,” ucapnya.

Dia juga menceritakan bahwa semester pertama di Norwegia dia jalani dengan berat karena kendala bahasa. “Saya sudah kursus bahasa Inggris. Tapi ternyata bahasa Inggris untuk teknik berbeda dengan bahasa Inggris percakapan biasa. Karena kesulitan itu, dari 4 matakuliah yang saya ikuti, 2 matakuliah dapat nilai B dan dua yang lain C,” imbuhnya, “Lalu setiap malam saya terus belajar. Di semester berikutnya dari 4 mata kuliah, nilai A saya dapatkan untuk 3 matakuliah dan satu yang lain nilainya B.”

Segalanya Harus Ditarget

“Mau meraih sesuatu, ya harus usaha!” tandas alumna Norges Teknisk-Naturvitenskapelige Universitet (NTNU) ini. Ia pun memberi tips, salah satunya adalah dengan mempunyai goal. “Segala sesuatunya harus ditarget, harus ada goal-nya,” ia mengimbuhkan. Ia menyadari untuk bisa kuliah di luar negeri harus bisa bahasa Inggris. Untuk itu sejak semester 1 ia mengikuti kuliah di CLT dengan serius. Selepas S1 pun ia masih melanjutkan kursusnya, “Itu karena saya mentargetkan sesudah S1 harus bisa bahasa Inggris.”

IMG_1507Ketika mencari beasiswa pun ia membuat target yang terukur, “Semuanya saya siapkan benar-benar. Saya membuat list universitas mana yang akan saya tuju, di Inggris ada universitas apa saja, di Norwegia mana saja yang bisa saya masukkan dalam daftar, dan syarat-syaratnya saya pahami juga.”

Dengan memiliki target seperti ini ia kemudian tahu hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut dan ia bisa memanfaatkan waktu dengan baik. “Sewaktu masih kuliah saya juga berusaha memanfaatkan waktu dengan baik. Saya pernah mengikuti summer job di sebuah perusahaan. Proyeknya dilakukan di Timor Timur,” tutur ibu dari Yohana dan Yacob ini.

Peraih predikat thesis terbaik di NTNU ini juga menuturkan bahwa proyeknya di Timor Timur ini ia dapatkan karena ia menyadari kemampuan yang ia miliki,”Waktu itu yang membuat saya diterima adalah karena saya meyakinkan interviewer bahwa kelebihan saya akan membantu terselesaikannya proyek, yaitu bahasa. Orang Timor Timur masih menggunakan bahasa Indonesia, jadi ini akan sangat membantu.”

Karena itu ia mengajak para peserta untuk berani, “Jadi jangan malu karena status kebangsaan Anda. Meskipun Anda orang Indonesia, kalau Anda yakin punya kemampuan, ya jangan malu. Kalau di luar negeri kita ini lho yang jadi bule.” (teodomina)

Kategori: , ,