Fakultas Psikologi Unika Luncurkan Sahabat Psikologi
Senin, 1 Juni 2015 | 7:41 WIB

SM15-05-29 Fakultas Psikologi Unika Luncurkan Sahabat Psikologi

 

Psikologi Unika Luncurkan Layanan Baru

Ketika Hasrat Sexual Sudah di Ubun

SEMARANG, suaramerdeka .com – Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata meluncurkan layanan baru yang bernama “Sahabat Psikologi”. Sarana ini dinamai sahabat psikologi dengan tujuan agar bisa menemani mahasiswa-mahasiswa dalam menjalani studinya.

“Harapannya ‘Sahabat Psikologi’ membantu para mahasiswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi, baik itu dalam hal studi, relasi, maupun masalah – masalah lainnya. Tapi soal utang piutang kelihatannya kami nggak bisa bantu,” tutur Kuriakhe Karismawan dalam rilis Unika Soegijapranata, Jumat (15/5).

“Sahabat Psikologi” juga memberi layanan perdana yaitu seminar yang berjudul “Ketika Nafsu Sudah di Ubun-ubun”. Pembicara dalam seminar ini adalah Kristine Wibhowo yang juga dosen di Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata.

Ketika membuka seminarnya, dosen yang lebih gemar menuliskan namanya dengan huruf X ini menuturkan bahwa salah satu kendala mahasiswa dalam menyelesaikan studinya berkaitan dengan dorongan seksual. Dorongan seksual ini sebenarnya merupakan hal yang normal namun berdampak fatal apabila terjadi secara binal.

“Dalam hal ini (dorongan seksual) yang perlu dipertimbangkan oleh mahasiswa adalah jika terjadi hubungan seks di luar pernikahan. Setidaknya ada tiga hal yang bermasalah apabila ini dilakukan,” tuturnya.

Pertama-tama akan merusak fungsi luhur otak. Otak yang awalnya bisa produktif dan menghasilkan karya-karya akan terganggu. Salah satunya adalah neuroepinefrin.

“Hormon epinefrin ini sebenarnya memantik ide-ide kreatif. Karena sudah dikendalikan nafsu seksual, kreativitas yang muncul ya malah kreativitas untuk berperilaku menyimpang,” jelasnya.

Yang kedua tentu akan berdampak secara psikis. Paling tidak mereka akan merasa bersalah (guilty feeling), gagal mengendalikan diri dan akan kehilangan rasa percaya diri.

“Yang paling parah sebenarnya adalah akibat pada nilai perkawinan. Efeknya bahkan bisa terjadi tujuh turunan. Karena anak dari anak Anda dan seterusnya akan merasakan dampaknya. Hubungan yang Anda bina dengan pasangan akan rapuh apalagi bila Anda tidak berani membuat standar untuk calon pasangan Anda,” ucapnya.

(Puthut Ami Luhur/ CN33/ SM Network)

sumber : berita.suaramerdeka.com

Kategori: