Melek Televisi ITU KEREN
Rabu, 10 Juni 2015 | 13:10 WIB

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/konten/uploads/2015/06/20SM09F15ORA-01.jpg

Bagaimana memilih tayangan televisi yang baik untuk dikonsumsi publik merupakan awal bagi perbaikan kepribadian bangsa kita.

Hal seperti ini dikarenakan televisi merupakan salah satu media yang berpengaruh bagi perkembangan tiap individu, baik itu anak, remaja maupun orang dewasa. Karena, setiap orang sebaiknya ”melek” terhadap tayangan-tayangan televisi.

Untuk menyadarkan pentingnya melek televisi di kalangan pelajar dan mahasiswa, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng bekerja sama dengan Unika Soegijapranata Semarang menyelenggarakan seminar ”Literasi Media di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa yang diadakan di kampus perguruan tinggi tersebut, Sabtu (6/6).

Seminar yang mendapat sambutan antusias dari mahasiswa Unika Soegijapranata dan belasan pelajar di Kota Semarang ini membedah sisi buruk tayangan televisi dan cara-cara terbaik dalam menonton televisi.

Ya, pengetahuan tentang literasi media memang seharusnya diketahui oleh semua orang. Hal itu ditegaskan oleh ketiga pembicara seminar yang terdiri atas Mulyo Hadi Purnomo (komisioner KPID Jateng), Natalia Sari Pujiastuti SPsi MPsi (Ketua Program Studi Komunikasi Unika Soegijapranata), dan Saroni Asikin (wartawan Suara Merdeka).

Saroni yang berbicara kali pertama menekankan pada peran yang lebih Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam melakukan seleksi terhadap tayangan yang layak muncul di Televisi. Dia juga berharap lembaga tersebut lebih punya taji. Maksudnya, lembaga itu tak hanya berperan sebagai penegur tayangan yang melanggar aturan dan memberi sanksi ringan kepada stasiun televisi pelanggar.

”Saya tahu, berdasarkan regulasi, peran KPI hanya menegur tayangan pelanggar dan bisa menghentikan program. Saya berharap, ada perubahan regulasi yang membuat peran KPI lebih besar dari sekadar penegur dan pemberi sanksi,” ujar Saroni.

Tayangan Buruk

Pada kenyataannya, banyak sekali tayangan yang telah ditegur KPI, tapi tak lama kemudian muncul tayangan lain yang hampir atau bahkan serupa dengan tayangan yang telah diberi sanksi. ”KPI juga KPID sudah bekerja keras membentengi pemirsa dari tayangan buruk. Tapi serbuan tayangan buruk itu terus bermunculan. Kalau sudah begitu, kesadaran kita dalam memilih tayangan televisi yang perlu dicerdaskan.

Itulah pentingnya literasi media, dalam hal ini televisi. Dan Remaja yang melek televisi itu remaja keren,” tambahnya. Tayangan buruk yang banyak disorot pembicara seminar antara lain sinetron, infotainment, acara hiburan, dan reality show. Tak hanya itu, bahkan tayangan berita pun sering kali menjadi tayangan buruk untuk dikonsumsi.

Hal itu disinggung pembicara kedua, Natalia Sari Pujiastuti. Dia mempertanyakan objektivitas pemberitaan di televisi yang sering mengungkapkan fakta tanpa memenuhi prinsip dasar jurnalistik seperti cover both sides. ”Dalam pemberitaan, beberapa televisi kita sering bias dalam menampilan fakta. Ini jelas berbahaya untuk masyarakat yang awam.

Mereka tidak tahu bahwa suatu berita itu setting-an.” Menurut pembicara ketiga, Mulyo Hadi Purnomo, bobot rendah tayangan dan berita yang muncul di televisi itu dikarenakan media tersebut lebih mengedepankan aspek bisnis ketimbang edukatif. ”Televisi sering mengabaikan aspek edukatif hanya untuk memburu keuntungan sebanyak-banyaknya. Itu sebabnya sebuah sinetron yang tidak mendidik tapi penuh iklan jadi produk andalan mereka,” tanya Mulyo.

”Kegalauan” terhadap tayangan buruk televisi tak hanya muncul dari paparan pembicara, tapi juga dari peserta pada sesi tanya jawab. Di luar itu, mereka juga mengakui pentingnya pengetahuan mengenai literasi media agar mereka selektif dalam memilih tayangan.

Felicia Devita, misalnya, mengaku mendapat banyak pengetahuan mengenai tayangan televisi dan dampaknya bagi pemirsa. ”Seminar itu membuat saya tahu mengenai pengaruh sebuah tayangan televisi bagi pemirsa. Itu pengetahuan yang berharga banget,” ujar tidak saya dapatkan di kelas sperti ini jelas menjadi modal pengetahuan bagi saya,î mahasiswi Program Studi Komunikasi Unika Soegijaprana itu.

”Saya jadi tahu tayangan mana yang berkualitas, mana yang tidak. Saya jadi sadar untuk lebih selektif dalam memilih siaran televisi,” ujar Andra Prabasari, mahasiswi Program Studi Komunikasi Unika Soegijapranata. (62)

sumber : berita.suaramerdeka.com

 

SM 2015-06-09 Melek Televisi Itu Keren

Kategori: