Lagi, Mahasiswa FTP Sandang Gelar SOTY
Kamis, 18 Juni 2015 | 14:52 WIB

_MG_1308[1]

Rangakain acara Student of the Year (SOTY) 2015 selesai dilaksanakan Kamis (18/6). Kecuali pada tahun 2012, sejak SOTY 2010 hingga SOTY 2015 piala juara pertama selalu dibawa ke Gedung Albertus, markas besar Fakultas Teknologi Pertanian.

Lorentia Santoso berhasil mendapat skor tertinggi dari ketujuh finalis. “Mereka (para finalis) telah diuji melalui 5 aspek penilaian. Kelima aspek yang dinilai ialah kegiatan ekstra & intra kampus, karya tulis, kemampuan berbahasa Inggris, kepribadian serta wawasan. Penguji untuk kelima aspek ini dilakukan oleh dosen-dosen dari berbagai disiplin ilmu,” tutur Lita Widyohastuti, Wakil Rektor 3.

Mahasiswi bernama panggilan Lolo ini memang dikenal mempunyai soft-skill yang baik. Hal ini dibuktikan dengan aktivitasnya di organisasi mahasiswa (ormawa) baik fakultas maupun tingkat universitas. Selain itu, ia juga berprestasi di bidang keilmuan (hard-skill). Belum lama ini ia melakukan penelitian di negeri gajah putih, Thailand.

Judul paper yang mengantar Lolo meraih posisi pertama ialah “Menghargai Makanan sebagai Wujud Menghargai Sesama”. Dari judul tersebut ditarik menjadi sebuah tagline yang berbunyi “Hi, what do you eat today? A Campaign Against the Eating Gap”.

Lolo mengaku persiapan mengikuti SOTY, termasuk pembuatan paper tersebut, membutuhkan usaha lebih. Terutama soal pembagian waktu. Maklum, alumna SMA Loyola ini menjabat ketua Senat Mahasiswa FTP periode 2014/2015. “Waktu itu banyak tantangan, misalnya saat karantina yang harinya bertabrakan dengan training wajib FTP selama 5 hari,” tuturnya ketika diwawancara Kronik via jejaring sosial.

Dukungan Teman-teman

Meskipun sejibun tanggung jawab ia emban, Lolo tak mengerjakan itu sendirian. “Selama persiapan saya tidak bekerja sendiri. Banyak teman yang turut mendukung dan membantu persiapan saya,” kata perempuan yang menjadi anggota Senat Mahasiswa Universitas periode 2013/2014 ini.

Untuk mengimplementasikan konsep dalam paper-nya, Lolo membuat kartu pos. Kartu pos itu digunakan sebagai sarana kampanye. Dalam pengerjaan inilah ia banyak dibantu teman-temannya. “Pertama untuk pembuatan kartu pos, saya minta tolong teman-teman yang hobi fotografi untuk observasi dan hunting bersama. Teman lain juga ikut mematangkan konsep,” imbuh perempuan bertanggal lahir 12 Juni 1994 ini.

Selain itu, kemampuan Lolo untuk memotivasi dan menggerakkan orang lain juga terbukti lewat bagaimana ia mendistribusikan kartu pos yang telah didesain. “Saya tidak bekerja sendiri, saya dibantu teman-teman untuk menyebar (kartu pos) di beberapa mall sekaligus melakukan kampanye kecil,” tuturnya. Akun online serta penggalangan dana sederhana untuk pembiayaan proyeknya juga ia lakukan bersama kawan-kawannya.

Bukan hanya Lolo sendiri yang menerima penghargaan SOTY. Ada Pouw Ivan Jaya MW dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, di posisi kedua. Dan piala second runner up dibawa mahasiswi Fakultas Psikologi, Monica Christina W, ke gedung Antonius. (TeoDomina)

Kategori: , , , ,