CALON ARSITEK YANG JAGO MURAL
Senin, 29 Juni 2015 | 11:22 WIB

SM 2015-06-28 CALON ARSITEK YANG JAGO MURAL

Banyak kafe di Kota Semarang yang menambahkan lukisan mural untuk desain interior dan eksteriornya. Nah, di sebagian kafe itu ada lukisan mural adalah karya Puthut Aldoko Wilis, mahasiswa Arsitektur Unika Soegiapranata Semarang.

Cowok yang akrab disapa Bobo ini nggak hanya bikin murak di kafe, tapi juga restoram dan barbershop. Beberapa di antaranya adalah Haircut Martabat Barbershop, Tekodeko Koffiehuis, Hooppine Apparel Store, dan Mister Barber Barbershop.

Bobo mengatakan dirinya menyukai aktivitas lukis-melukis sejak kecil. Ia belajar melukis secara autodidak karena di keluarganya tidak ada yang berprofesi sebagai pelukis. Nggak disangka, ternyata hobi masa kecilnya itu berlanjut sampai saat ini dan malah mendatangkan rezeki.

‘’Dari kecil saya suka gambar. Saya seperti menemukan diri saya saat melukis dan nyaman dengan aktivitas ini,’’ kata cowok kelahiran Semarang, 23 Mei 1992 ini.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya mendalami mural sejak lima tahun lalu bersama temannya sewaktu SMP. Ia nggak hanya piawai melukis mural tetapi juga lukisan-lukisan lain seperti ilustrasi. Ia sebenarnya nggak ingin terpatok dengan aliran tertentu karena ia suka melukis apa saja yang ia sukai. Namun selama lima tahun terakhir ia kebanjiran job untuk melukis mural. Jadi ia lebih dikenal sebagai pelukis mural.

Selain sibuk menggarap beberapa lukisan mural untuk kafe, ia juga sering ikut pameran lukisan di Kota Semarang, bahkan di kota-kota lain seperti Jakarta, Surabaya, atau Yogyakarta. Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman dan kesempatan untuk memperluas koneksinya lewat pameran yang ia ikuti.

‘’Senangnya ikut pameran ya bisa dapat kenalan baru. Dari kenalan baru itu saya bisa dapat job baru,’’ ujar Bobo sambil tertawa.

Bimbang

Sukses dalam berbagai proyek melukis membuat membuat Bobo bimbang menentukan mana yang akan lebih ia prioritaskan, ilmu arsitektur atau melukis. Ia merasa nyaman dan tenang saat melukis dan ia pun menikmatinya, tetapi di satu sisi ia nggak mungkin menyia-nyiakan ijazahnya ketika lulus nanti.

‘’Saya bingung kalau ditanya tentang prioritas. Saya suka duaduanya. Saya suka melukis dan saya senang bisa melebarkan sayap untuk belajar arsitektur,’’ ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dulu saat baru tamat SMAia sempat memiliki cita-cita untuk meneruskan kuliah jurusan seni rupa di ISI Surakarta. Namun orang tuanya meminta ia kuliah di Semarang saja.

Ia berharap ketika sudah lulus kuliah dan bekerja nanti ia tetap bisa melakoni profesi sebagai pelukis mural. Ia merasa sudah sangat nyaman dengan kegiatan melukis sehingga ia tidak rela kalau harus menutup diri untuk proyek-proyek mural nantinya.

‘’Saya ingin tetap jadi pelukis mural dan jadi arsitek sekaligus. Inginnya seimbang dua-duanya,’’ katanya.

Bobo merasa beruntung, orang tuanya mendukung segala aktivitas melukis yang ia lakoni sehingga ia merasa nggak terbebani. Ia selalu menceritakan proyek-proyek yang ia terima kepada kedua orang tuanya karena ia percaya dengan restu dari orang tua pekerjaan yang ia jalani akan diberikan kelancaran.

‘’Orang tua dan teman-teman saya mendukung sepenuhnya kegiatan saya. Mereka pernah bilang bahwa selulus nanti saya harus fokus pada bidang arsitektur saja. Tapi saya berusaha membuktikan bahwa kedua kegiatan saya tersebut akan tetap berjalan seimbang.’’

Kini ia tengah berusaha menyelesaikan pendidikannya yang tinggal skripsi agar lebih bebas berkarya dan ekerja. Ia juga menegaskan jika sudah lulus nanti ia akan lebih pandai memilih proyek yang akan ia kerjakan. Tentunya ia akan memilih yang dapat dikerjakan dalam waktu yang singkat agar tidak mengganggu kegiatan lainnya. (62) Ratna Setianik

Kategori: