Menolak Korupsi melalui Sebuah Puisi
Senin, 4 Mei 2015 | 12:31 WIB

puisi 4puisi 3 puisi 2 puisi 1

Emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu.

Ibu Kartini adalah tokoh yang menyuarakan mengenai emansipasi di Indonesia, dimana Ibu Kartini bermaksud agar wanita mendapatkan hak  untuk mendapatkan pendidikan seluas-luasnya dan setinggi – tingginya.

Agar wanita juga diakui kecerdasannya dan diberi kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya dan agar wanita tidak direndahkan derajatnya di mata pria.

Dalam rangka memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April lalu, Laskar Perempuan Menolak Korupsi dan PMLP (Program Magister Lingkungan dan Perkotaan) Unika Soegijapranata mengumpulkan beberapa sastrawan dalam satu acara yang  bertemakan Perempuan Menolak Korupsi "Kembalikan Ruh Pertiwi".

 

Acara yang dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Mei 2015.

Bertempat di Theater gedung Thomas Aquinas ini tidak hanya me

nghadirikan sastrawan saja, tetapi menghadirkan beberapa wanita yang memiliki peranan baik sebagai anggota dewan, pengajar, mahasiswa dan juga ibu rumah tangga yang menyuarakan penolakkan mereka terhadap korupsi lewat sebuah puisi.

"Lewat media puisi menolak korupsi, perempuan secara personal berpartisipasi dalam arena politik (McDowell, 1991,180-181). Mereka mengangkat isu-isu korupsi yang telah merampas kehidupan perempuan, keluarga, masyarakat dan alam semesta sebagai isu gerakan sosial atau oleh Castells disebut ‘new social movement’" catatan yang diungkapkan oleh Hotmauli Sidabalok selaku pembicara dalam diskusi acara tersebut.

Ibu Oely begitu sapaan beliau yang mana juga sebagai salah satu pengajar di FHK Unika Soegijapranata menambahkan bahwa "penyair perempuan telah memilih caranya untuk menolak korupsi. Mereka tak menunggu, mereka tak diam. Rasa tertindas, suara hati dan pengalamannya menjadi senjata mengguratkan pena untuk menolak korupsi. Mereka menggugat hak hidupnya, hak hidup anak-anaknya dan hak bumi ini dari keserakahan penguasa yang tidak bertanggung jawab. Mereka telah menjadi agen perubahan bangsa ini lewat pena dan suaranya". (Molly)

Kategori: ,