Mahasiswa Unika Bersihkan Sendang TBRS
Senin, 4 Mei 2015 | 11:55 WIB

SM040515 Mahasiswa Unika Bersihkan Sendang TBRS

SEMARANG– Dosen dan mahasiswa Unika Soegijapranata melakukan kerja bakti membersihkan sampah di sendang yang berada di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

Beberapa wartawan, penyair, serta fotografer ikut melibatkan diri dalam kerja bakti, Sabtu (2/5).

Rektor Unika Budi Widianarko ikut terjun langsung. Tiba sekitar pukul 08.00, dia bekerja bakti hingga menjelang tengah hari. Ketua Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Unika, Donny Danardono, mengungkapkan, acara tersebut merupakan kepedulian Unika terhadap kawasan TBRS yang dianggap sebagai hutan kota.

”Banyak sampah plastik yang dibuang begitu saja di beberapa tempat yang sedikit tersembunyi, termasuk salah satunya di lokasi mata air. Air ini dikonsumsi oleh warung, kantor, dan tempat-tempat budaya di TBRS. Sampah plastik itu bisa mencemari air,” terang Donny.

Setelah mengamati pohonpohon tinggi besar di TBRS, pihaknya menduga ada sekitar tujuh pohon beringin besar yang berusia lebih dari seratus tahun. Pohon ini diperkirakan ditanam oleh pemerintah Hindia Belanda ketika mendirikan kebun binatang. Selain beringin, mereka juga menemukan pohon randu dan trembesi.

Lima Jenis Burung

”Kami juga menemukan lebih dari sekitar lima jenis burung bersarang dan hidup di TBRS. Sayang, perlakuan orang-orang terhadap pohon-pohon itu tak pantas. Mereka memaku pohon-pohon itu untuk memasang spanduk atau pamflet. Saat pamflet itu dicabut, paku-paku itu dibiarkan tertinggal,” tambahnya.

Pihaknya juga menyayangkan TBRS tampak terbengkalai. Donny mengatakan, PMLP berniat mengadakan survei di TBRS dan membuat usulan praktis kepada Pemerintah Kota Semarang tentang kegiatan apa saja yang bisa dilakukan tanpa merusak hutan kota.

Rektor Prof Dr Ir Y Budi Widianarko Msc mengatakan, aksi pengumpulan sampah di kawasan TBRS adalah tindakan simbolik untuk mengingatkan bahwa pencemaran tidak dapat dikendalikan dengan undangundang atau peraturan saja.

”Sudah begitu banyak peraturan, termasuk kewajiban pemerintah untuk mengelola sampah, tapi semua itu tak berdaya. Yang kita perlukan adalah sebuah misi pengikat yang menggerakkan semua pihak, seperti perlawanan terhadap polusi visual untuk kasus sampah plastik dan penyelamatan sumber air dalam kasus kematian sendang,” kata Budi. (H35,H71-43)

Kategori: