Mahasiswa Psikologi Latih Kepekaan Hati
Rabu, 6 Mei 2015 | 12:46 WIB
Salah satu peserta Psyche mendampingi siswa tunagrahita di SLB Widya Bhakti.

Salah satu peserta Psyche mendampingi siswa tunagrahita di SLB Widya Bhakti.

Jangan sembarangan mengucapkan kata ‘bodoh’, ‘dungu’, atau ‘tolol’ pada seseorang. Jika Anda terbiasa mengucapkannya secara sembarangan, rasa empati Anda terhadap penyandang tunagrahita dipertanyakan.

Situs id.wikipedia.org mencatat kata bodoh, dungu, dan tolol tadi sebagai padanan kata tunagrahita. Tunagrahita merupakan salah satu kelainan psikologis yang ditandai dengan fungsi intelektual yang lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes intelegensi baku. Kelainan ini bisa terjadi sejak dalam kandungan karena faktor organik biologis maupun fungsional.

“Seorang sarjana psikologi harus mempunyai kepekaan hati. Inilah yang menjadi salah satu latar belakang kami mengadakan acara yang berjudul Psyche bersama penyandang tunagrahita di SLB Widya Bhakti Semarang,” tutur Febriaty P. Hutagalung, fungsionaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bidang Sosial Kemasyarakatan.

Psyche merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Psikologi. Pada acara yang terselenggara pada hari Minggu (3/5) ini, peserta diajak untuk melakukan action di SLB Widya Bhakti Semarang untuk anak-anak yang memiliki kelainan tunagrahita. Psyche sendiri merupakan akronim dari psychology care withe heart.

Para peserta yang seluruhnya adalah mahasiswa fakultas psikologi ini berperan sebagai fasilitator untuk berbagai kegiatan yang dirancang panitia, diantaranya mewarnai dan outbound. 

“Pada saat sesi mewarnai ada hal yang membuat saya tertarik. Awalnya saya mengira anak-anak hanya akan mewarnai objek yang ada di gambar. Ternyata tidak. Mereka malah menambahi gambar. Ada yang menambahi dengan gambar rumput, awan, dan sebagainya. Mereka bisa berpikir out of the box,” tutur mahasiswa yang sehari-hari dipanggil Aty ini.

Belajar Tulus

Tujuan diselenggarakannya acara ini bisa dikatakan tercapai. Salah satu peserta juga menceritakan salah satu pengalaman yang baginya menarik.

“Waktu itu kan kami mengajak menari ‘chicken dance’. Salah satu anak yang saya dampingi mendorong sahabatnya dan membuat sahabatnya tersebut terluka hingga berdarah,” tutur Baskhoro Adi mengawali cerita. “Nah, saya pun bilang padanya ‘Dik Krisna, hayo minta maaf’. Saya cuma berkata seperti itu, dia melakukan lebih dari yang saya bayangkan. Ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan dan mengelus pundak sahabatnya tadi untuk meredakan emosinya,” sambungnya.

Dari peristiwa sederhana tersebut dia mengaku mendapat pelajaran berharga, “Kita yang normal ketika minta maaf kadang hanya sekedar minta maaf di mulut saja. Tapi dari peristiwa itu saya belajar artinya ketulusan. Ketulusan yang diberikan dengan tulus akan dibalas dengan ketulusan pula, seperti Krisna yang memperoleh maaf tulus dari sahabat yang telah didorongnya.”

Kategori: , ,