Turut Selamatkan Sejarah Semarang
Senin, 20 April 2015 | 15:17 WIB

 

Susanti Dwi Arini, wisudawati terbaik Magister Arsitektur

Susanti Dwi Arini, wisudawati terbaik Magister Arsitektur

Kota Semarang banyak menyimpan sejarah penting pembentukan bangsa. Buktinya bisa dilihat melalui banyaknya bangunan bersejarah yang ada di kota ini, misalnya bisa dilihat di seputar Kota Lama. Sayangnya sedikit demi sedikit, identitas sejarah yang dimiliki kota Semarang ini tergerus arus zaman.

Wisudawan terbaik Magister Arsitektur mencoba urun gagasan melalui tesisnya yang berjudul “Tipologi Arsitektur pada Rumah Tinggal Kuno di Kawasan Petolongan, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah”.

Dalam wawancara via surat elektronik, pemilik nama lengkap Susanti Dwi Arini ini menuturkan,”Kawasan Petolongan mempunyai nilai historis yang cukup kuat dengan masih terdapatnya masjid Jamik Pekojan yang merupakan ikon kawasan tersebut.” Namun sayangnya wilayah tersebut sering menghadapi banjir, baik itu yang disebabkan oleh rob maupun sistem aliran air yang kurang baik.

Perempuan bernama panggilan Santi yang lahir di Semarang 27 tahun yang lalu ini kemudian mengatakan bahwa karena nilai historisnya, desain bangunan kuno ini perlu dipertahankan. Tentunya dengan memperhatikan perkembangan zaman. “Apabila hal itu tidak dilakukan, nilai sejarah ini hanya akan bisa dikenang lewat foto-foto atau buku-buku Semarang tempo doeloe,” jelasnya.

Masyarakat yang Ramah

Wilayah Petolongan dan sekitarnya merupakan wilayah yang multi etnis. Hal itu bisa dilihat dari nama daerah yang dikenal sekarang, misalnya Pecinan, Pekojan, Kauman dan sebagainya. Menurut beberapa penulis sejarah, hal itu merupakan sisa-sisa politik devide et impera yang diterapkan Belanda. Tempat tinggal masyarakat zaman itu dipilah-pilah juga menurut golongannya: misalnya Pecinan untuk kaum tionghoa, Pekojan untuk orang-orang Koja atau Arab dan sebagainya.

Meskipun dulu dipisah-pisah oleh pemerintah Kolonial Belanda, saat ini masyarakat membaur dengan baik. Santi pun terkesan dengan keramahan masyarakat daerah tersebut. Hal ini ia rasakan ketika mencoba bubur India di dekat Masjid Petolongan. “Satu hal menarik bagi saya adalah pada saat berkunjung ke masjid Petolongan untuk mencoba bubur India di sana. Terlihat bagaimana kerukunan yang terjalin, mulai dari memasak, menyiapkan bubur, sholat bersama, hingga acara buka bersama,” kisahnya.

Menutup wawancaranya, ia menitipkan harapan untuk Unika Soegijapranata,”Semoga Unika Soegijapranata terus mengembangkan pelayanan pendidikan bagi masyarakat dan menjadi perguruan tinggi swasta terbaik di kota Semarang.” (TeoDomina)

Kategori: ,